Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Martir Korea


car donation program, cars for homes, monetary, vehicle donations, home repair nonprofit, we'll pick up your car, donate your car now, donate now, donate today, donate today, donate your car now, we'll take your car, make a donation today, make a donation today, cars for homes, donate your car, build homes, donate your car now, car, donate, car donate, car donation, california, donate car to charity california, mesothelioma lawyers, mesothelioma attorneys, mesothelioma attorney, mesothelioma lawsuits, mesothelioma lawsuit, mesothelioma lawyer, mesothelioma law, mesothelioma litigation, malignant mesothelioma, mesothelioma settlement, mesothelioma, lawyer mesothelioma, mesothelioma cancer, asbestos lawyer, asbestos attorney, ohio mesothelioma lawyer, texas mesothelioma attorneys, mesothelioma asbestos lawyers, maryland mesothelioma lawyers, minnesotamesothelioma lawyers

103 Martir Korea adalah Kelompok 103 Martir yang Kanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 6 Mei 1984. Mereka berasal dari kalangan pribumi Korea dan para Missionaris Eropa. Diantara para pahlawan iman ini terdapat para imam, biarawan- biarawati, uskup, katekis dan umat awam.

Berikut daftar para Martir Korea yang gugur karena beriman kepada Yesus pada masa-masa awal perkembangan Gereja di Korea. Sebagian besar dibunuh selama masa penganiayaan pada tahun 1839, 1846 dan 1867.

1. Santa Agatha Kim A-gi

Santa Agatha Kim A-gi berasal dari keluarga yang belum mengenal Kristus, demikian juga dengan suaminya. Pada masa itu, ajaran Katolik dianggap sebagai ajaran sesat setelah kejadian pada tahun 1791, ketika Paulus Yun Chi-ch’ung membakar tablet berhala leluhurnya. Peristiwa itu memicu terjadinya gelombang penganiayaan kepada umat Katolik yang dimulai pada tahun 1801.

Baca Selengkapnya : Santa Agatha Kim A-gi


2. Santa Agatha Yi So-Sa

Agatha Yi lahir pada tahun 1784 di Kuwul, dekat Inchon, Provinsi Kyonggi. Ditahun ini pula, Yi Sung-hun orang Katolik pertama dari Korea, dibaptis di Peking China. Agatha Yi dikenal ramah dan sopan. Ia selalu membawa cahaya dan kegembiraan bagi seisi rumahnya. Ayahnya bukanlah seorang Katolik, dan walaupun ibunya pernah menjadi seorang katekumen, ibunya itu tidak terlalu paham tentang iman kristiani. Karena itu Agatha kecil tidak menerima pelajaran agama yang memadai.

Baca Selengkapnya : Santa Agatha Yi So-Sa


3. Santo Agustinus Yi Kwang-hon

Santo Agustinus Yi Kwang-hon lahir pada tahun 1787 di Kwangju, Gyeonggi-do Korea. Ia berasal dari keluarga bangsawan Kwangju Yi, yang mana pada masa penganiayaan tahun 1801, banyak anggota keluarga bangsawan ini yang gugur menjadi martir Kristus.

Baca Selengkapnya : Santo Agustinus Yi Kwang-hon


4. Santo Andreas Chong Hwa-Gyong

Santo Andreas Chong Hwa-Gyong adalah salah seorang dari Para Martir Korea. Ia adalah seorang katekis awam yang bekerja di Vikariat Apostolik Korea. Saat umat Kristen di Korea mengalami penganiayaan, Andreas menyediakan rumahnya sebagai safe house bagi saudara-saudara Kristiani-nya yang sedang dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah.

Baca Selengkapnya : Santo Andreas Chong Hwa-Gyong


5. Santo Andreas Kim Taegon

Santo Andreas Kim Taegon (김대건 안드레아) adalah imam Katolik pertama dari Korea. Di akhir abad ke-18, agama Katolik Roma di Korea mulai "secara sangat perlahan mengakar", dan diperkenalkan oleh para umat awam. Baru pada tahun 1836 Korea menerima kedatangan para imam misionaris yakni para biarawan MEP (Mission Etrangères de Paris) dari Perancis.

Baca Selengkapnya : Santo Andreas Kim Taegon


6. Santa Anna Pak A-gi

Santa Anna Pak A-gi lahir pada tahun 1783 dalam keluarga Katolik yang tinggal di sebuah desa kecil di tepi Sungai Han. Dia tidak terlalu pandai dan kesulitan belajar katekese dan melafalkan doa-doa dasar (yang pada masa itu masih diucapkan dalam bahasa Latin), namun dia mencintai Allah dengan sepenuh hati. Dia selalu berkata, “Saya tidak dapat mengenal Allah sebanyak yang saya inginkan namun saya dapat berusaha untuk mencintai Dia dengan sepenuh hati.”

Baca Selengkapnya : Santa Anna Pak A-gi


7. Santa Barbara Kwon Hui

Salah seorang dari 103 Martir Korea. Santa Barbara Kwon Hui adalah istri dari Santo Agustinus Yi Kwang-hon, ibu dari Santa Agatha Yi dan kakak ipar dari Yohanes Yi Kwang-nyol. Ia lahir pada tahun 1794 dalam keluarga pagan dan dibabtis menjadi seorang Katolik bersama suaminya.

Baca Selengkapnya : Santa Barbara Kwon Hui


8. Santo Damianus Nam Myong-hyok

Damianus Nam Myong-hyok lahir pada tahun 1802 dalam sebuah keluarga bangsawan. Ia mengenal iman Kristiani pada usia 30 tahun dan dibabtis oleh Pasifikus Yu Pang-je, seorang imam dari Tiongkok yang diutus ke Korea oleh Uskup Beijing. Pasifikus Yu Pang-je adalah imam kedua yang bertugas di Korea. Ia tiba di Korea pada bulan Januari 1834 dan menjadi satu-satunya imam yang bertugas di semenanjung Korea setelah Beato Yakobus Zhou Wen-mo, Imam pertama yang diutus ke Korea, tewas menjadi martir pada tahun 1801.

Baca Selengkapnya : Santo Damianus Nam Myong-hyok


9. Santa Lusia Pak Hui-sun

Santa Lusia Pak Hui-sun adalah adik dari Santa Maria Pak K’un-agi. Mereka berasal dari keluarga kaya di kota Hanyang (Seoul). Pak Hui-sun terkenal akan kecantikannya. Pada usia dini ia telah dipanggil menjadi dayang-dayang bagi Permaisuri Kim Sunwon di istana kerajaan. Selain cantik dan menawan, Pak Hui-sun juga pintar dan terampil.

Baca Selengkapnya : Santa Lusia Pak Hui-sun


10. Santa Magdalena Kim Ob-i

Santa Magdalena Kim Ob-i lahir pada tahun 1774 di kota Seoul. Ia dibabtis menjadi Katolik sejak kecil dan beranjak dewasa dengan iman yang kokoh. Seumur hidupnya ia selalu berupaya untuk menjalani hidup kudus sesuai ajaran iman Kristiani. Ia adalah seorang wanita katolik sejati yang siap melayani Tuhan dengan cara terbaik dan selalu patuh pada hirarki Gereja.

Baca Selengkapnya : Santa Magdalena Kim Ob-i


11. Santa Maria Pak K’un-agi

Santa Maria Pak K’un-agi adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Santa Maria Pak K’un-agi adalah kakak dari Santa Lusia Pak Hui-sun yang menerima mahkota kemartiran empat bulan setelah kemartiran adiknya Lusia.

Baca Selengkapnya : Santa Maria Pak K’un-agi


12. Santo Paulus Chong Hasang

Santo Paulus Chong Hasang adalah salah seorang pendiri Gereja Katolik di Korea. Ia juga salah satu dari 103 Martir Korea yang wafat sebagai saksi Kristus pada masa penganiayaan umat kristen di Korea (1839 -1867). Ayahnya adalah Yak Jong yang tewas sebagi martir pada tahun 1801 dimasa penganiayaan Shin-Yu. Pada masa itu penganiayaan terhadap iman kristen telah menewaskan semua pemuka Kristiani di Korea. Ibunya adalah santa Cecilia Yu, dan seorang saudaranya juga menjadi seorang kudus yaitu santo Jung Hye.

Baca Selengkapnya : Santo Paulus Chong Hasang


13. Petrus Kwon Tug-in

Petrus Kwon Tug-in adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Ia lahir pada tahun 1805 di Seoul, di sebuah keluarga Katolik. Ketika dia masih kecil, ayahnya meninggal. Ibunya seorang Katolik yang saleh, dia juga meninggal ketika Petrus Kwon berusia 16 tahun. Ibunya adalah seorang teladan yang baik yang membuat dia menjadi seorang Katolik yang luar biasa. Dia bangun sebelum ayam pertama kali berkokok dan dia berdoa sampai fajar menyingsing. Dia dikenal sebagai seorang yang baik kepada semua orang.

Baca Selengkapnya : Petrus Kwon Tug-in


14. Santo Petrus Yi Ho-yong

Di antara Tujuh Puluh Sembilan Martir Korea yang tewas pada saat penganiayaan tahun 1839, yang pertama kali ditangkap dan juga menghabiskan waktu paling lama di penjara adalah kakak-beradik Santa Agatha Yi So-Sa dan Santo Petrus Yi Ho-yong. Petrus Yi Ho-yong juga menjadi orang pertama dari 103 orang kudus Korea yang memenangkan mahkota kemartiran.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Yi Ho-yong


15. Santo Protasius Chong Kuk-bo

Santo Protasius Chong Kuk-bo adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Ia lahir di Songdo, Provinsi Kyonggi pada tahun 1799 di keluarga bangsawan. Pada saat kelahirannya, keluarganya adalah keluarga yang berpengaruh dan kaya.

Baca Selengkapnya : Santo Protasius Chong Kuk-bo


16. Santo Sabas Ji Hwang

Santo Sabas Ji Hwang (atau Ji Hong) adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Ia lahir pada tahun 1767 dari keluarga musisi di istana kerajaan. Ketika para missionaris mulai mewartakan Injil di Korea, Ji Hwang dengan sukarela mulai mempelajari iman Kristiani dan pada akhirnya ia memberikan dirinya untuk dibabtis sebagai anggota Gereja Kudus dengan nama babtis : Sabas (atau “Saba” dalam Ejaan Korea).

Baca Selengkapnya : Santo Sabas Ji Hwang


17. Beato Yakobus Zhou Wen-mo

Zhou Wen-mo lahir pada tahun 1752 di Su-Tcheou, Provinsi Jiang-nan, Tiongkok. Kedua orang tuanya meninggal ketika dia masih anak-anak dan ia dibesarkan oleh seorang bibinya. Ia mengenal ajaran iman Katolik melalui pewartaan para missionaris dan dibabtis dengan nama Yakobus. Ia lalu masuk seminari keuskupan di Beijing, dan ditahbiskan menjadi imam lulusan pertama dari seminari tersebut.

Baca Selengkapnya : Beato Yakobus Zhou Wen-mo


18. Santo Yohanes Yi Kwang-Nyol

Santo Yohanes Yi Kwang-Nyol adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Ia berasal dari keluarga bangsawan dan menerima iman Katolik melalui kakaknya Santo Agustinus Yi Kwang-hon. Ia dikenal sebagai seorang yang jujur, penuh semangat, dan memiliki iman yang luar biasa. Tak lama setelah memutuskan untuk menjadi seorang Katolik, dia menjadi salah seorang diantara para tokoh Katolik Korea yang berangkat ke Peking demi meminta bantuan Uskup Peking agar mengirimkan pastor ke Korea

Baca Selengkapnya : Santo Yohanes Yi Kwang-Nyol


19. Santo Yosef Chang Song-jip

Santo Yosef Chang Song-jip adalah salah seorang dari 103 Martir Korea. Ia lahir pada tahun 1786 dalam sebuah keluarga pagan di Seoul Korea. Dia adalah seorang apoteker dan bekerja di toko obat herbal. Dia pernah menikah dua kali, namun dua kali pula ia kehilangan isteri dan menduda. Chang Song-jip mulai belajar katekese pada usia 30 tahun.

Baca Selengkapnya : Santo Yosef Chang Song-jip


20. Santa Barbara Han A-gi

Pada awal penganiayaan tahun 1839 yang bertempat di Pintu Gerbang Kecil Barat di Seoul. Sembilan orang menjadi martir, mereka terdiri dari tiga orang pria dan enam orang wanita. Tiga orang wanita itu diantaranya adalah Magdalena Kim Ob-i, Agatha Kim A-gi, dan Barbara Han A-gi, mereka telah ditangkap tiga tahun sebelumnya dan menghabiskan waktu bersama-sama di penjara.

Baca Selengkapnya : Santa Barbara Han A-gi


21. Santa Barbara Kim

Santa Barbara Kim (1805-1839) adalah salah seorang yang meninggal di penjara karena penyakit. Berdasarkan “Catatan Harian Penganiayaan Tahun 1839” oleh Karolus Hyon Sok-mum, lebih dari enam puluh orang meninggal karena disiksa dan penyakit di penjara.

Baca Selengkapnya : Santa Barbara Kim


22. Santa Barbara Yi

Barbara Yi (1825-1839) lahir di Chongpa di Seoul. Dia berusia 15 tahun ketika dia menjadi martir. Dia ditinggal mati kedua orang tuanya sejak kecil, dan dia tinggal bersama dengan bibinya yaitu martir Magdalena Yi Yong-hui dan Barbara Yi Chong-hui. Bisa dikatakan bahwa Barbara tinggal di dunia ini hanya untuk mencintai Allah dan mati bagi-Nya.

Baca Selengkapnya : Santa Barbara Yi


23. Santa Rosa Kim

Rosa Kim lahir pada keluarga non-Katolik pada tahun 1784 di Hanyang. Dia menikah, namun dia dan suaminya kemudian berpisah. Setelah perpisahan itu, Rosa Kim pergi untuk hidup bersama seorang kerabat Katolik dan ini menjadi kontak awal dengan Gereja. Walaupun hal ini terjadi di usianya yang sudah lanjut, dia dengan senang hati mengabdikan dirinya untuk mempelajari doktrin. Dia seorang yang cerdas dan dapat berkomunikasi dengan baik sehingga dia dapat membuat orang lain memahami nilai-nilai keyakinannya.

Baca Selengkapnya : Santa Rosa Kim


24. Santa Martha Kim Song-im

Dalam “Catatan Harian Penganiayaan Tahun 1839,” Santa Martha Kim Song-im (1787-1839) dikenal sebagai Keluarga Pup’yong.

Baca Selengkapnya : Santa Martha Kim Song-im


25. Santa Teresia Yi Mae-im

Teresia Yi Mae-im (1788-1839) adalah bibi dari martir Barbara Yi Chong-hui dan Magdalena Yi Yong-hui. Teresia dan tiga orang wanita saleh lainnya menyerahkan dirinya sendiri ke aparat pemerintahan. Teresia dipenggal di luar Pintu Gerbang Kecil Barat pada tanggal 20 Juli 1839 bersama dengan tujuh orang umat Katolik lainnnya. Pada saat itu dia berusia 52 tahun.

Baca Selengkapnya : Santa Teresia Yi Mae-im


26. Santa Anna Kim Chang-gum

Anna Kim Chang-gum (1789-1839) ditangkap pada tanggal 8 April 1839 ketika usianya 51 tahun. Anna lahir di sebuah keluarga Katolik. Dia kehilangan suaminya ketika dia masih muda, dan kemudian dia tinggal bersama dengan ibunya dalam kemiskinan. Dia menghabiskan waktunya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh.

Baca Selengkapnya : Santa Anna Kim Chang-gum


27. Santa Magdalena Yi Yong-hui

Magdalena Yi Yong-hui (1809-1839) lahir pada keluarga bangsawan namun miskin. Ibunya yaitu Magdalena Ho, kakak perempuannya yaitu Barbara Yi, dan bibinya yaitu Teresia Yi, mereka semua adalah orang Katolik yang penuh semangat, namun ayahnya seorang pagan yang kuat yang membenci umat Katolik, oleh karena itu, mereka menjalankan agamanya dengan diam-diam.

Baca Selengkapnya : Santa Magdalena Yi Yong-hui


28. Santa Lusia Kim

Lusia Kim (1818-1839) adalah seorang yang wanita muda yang menarik dengan bakat, keberanian, dan keanggunannya. Ketik a kedua orang tuanya meninggal, dia harus menjual seluruh miliknya untuk membayar biaya pemakaman. Setelah itu, dia tinggal bersama dengan sebuah keluarga Katolik, dan kemudian dia berjanji untuk tetap perawan.

Baca Selengkapnya : Santa Lusia Kim


29. Maria Won Kwi-im

Maria Won Kwi-im (1819-1839) lahir pada tahun 1819 di Yongmori, Kyuanggun. Dia kehilangan ibunya ketika dia masih kecil, dan dia mengikuti ayahnya yang mengembara dengan mengemis makanan. Ketika dia berusia 9 tahun, salah satu kerabatnya yaitu Lusia Won yang merupakan seorang Katolik yang sangat saleh, membawa dia dan mengajarkannya dengan doa-doa dan Ketekismus.

Baca Selengkapnya : Maria Won Kwi-im


30. Santo Yohanes Pak Hu-jae

Yohanes Pak Hu-jae (1799-1839) adalah putra dari martir Laurensius Pak. Yohanes lahir di Youngin sekitar tahun 1798 atau 1799. Kemudian dia pergi ke Seoul bersama dengan keluarganya, dan dia mencari nafkah dengan membuat sepatu jerami.

Baca Selengkapnya : Santo Yohanes Pak Hu-jae


31. Santa Barbara Yi Chong-hui

Santa Barbara Yi Chong-hui (1799-1839) adalah putri dari Magdalena Ho Kye-im, kakak perempuan dari Magdalena Yi Yong-hui dan juga bibi dari Barbara Yi. Seseorang dapat melihatnya bahwa dia benar-benar berasal dari keluarga martir.

Baca Selengkapnya : Santa Barbara Yi Chong-hui


32. Santa Maria Yi Yon-hui

Maria Yi Yon-hui (1804-1839) adalah istri dari martir Damianus Nam. Maria memiliki kehendak yang kuat dan juga seorang wanita yang cerdas. Sama seperti Barbara Kwon, dia pernah menerima Uskup Imbert dan para misionaris di rumahnya, pada waktu itu perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang berbahaya, Maria juga menyediakan berbagai kebutuhan bagi mereka.

Baca Selengkapnya : Santa Maria Yi Yon-hui


33. Santa Agnes Kim Hyo-ju

Kolumba Kim Hyo-im (1814-1839) lahir pada tahun 1814 dan adiknya yaitu Agnes Kim Hyo-ju (1816-1839) lahir dua tahun kemudian di keluarga pagan di Bamseom, yang berarti pulau kastanya, di tepian sungai Han. Pada asalnya keluarga mereka bukan Katolik, namun ibunya mengawali ketertarikan terhadap iman dan berangsur-angsur semakin dekat dengan iman, namun ayah mereka bukan seorang beriman.

Baca Selengkapnya : Santa Agnes Kim Hyo-ju


34. Santo Fransiskus Choe Kyong-hwan

Fransiskus Choe Kyong-hwan (1805-1839) berasal dari keluarga Kyongju Choe, dia lahir pada tahun 1805 di keluarga kaya raya di Taraekkol, Honjugun, Provinsi Ch’ungch’ong. Kakeknya yaitu Choe Han-il adalah anggota keluarga yang pertama dibaptis pada tahun 1787, setelah menerima bimbingan dari seseorang ternama yaitu, Yi Chon-ch’ang.

Baca Selengkapnya : Santo Fransiskus Choe Kyong-hwan


35. Santo Laurent-Marie-Joseph Imbert

Uskup Imbert (1797-1839) lahir di Perancis pada tanggal 15 April 1797. Dia bergabung dengan Serikat Misi Paris (Paris Foreign Missions Society / Société des Missions étrangères de Paris disingkat menjadi M.E.P.) pada tahun 1819, dan pada tahun berikutnya, dia meninggalkan Paris untuk pergi ke Szechuan di Tiongkok. Kemudian dia bertanggung jawab atas seminari di sana.

Baca Selengkapnya : Santo Laurent-Marie-Joseph Imbert


36. Santo Pierre-Philibert Maubant

Pastor Maubant (1803-1839) lahir pada tahun 1803 di Vassy, Perancis. Setelah ditahbiskan menjadi imam, dia bergabung dengan Serikat Misi Paris (Paris Foreign Missions Society / Société des Missions étrangères de Paris disingkat menjadi M.E.P.) pada tahun 1831. Dia dikirim ke Tiongkok di mana dia menawarkan diri untuk pergi ke Korea.

Baca Selengkapnya : Santo Pierre-Philibert Maubant


37. Santo Jacques-Honoré Chastan

Pastor Chastan (1803-1839) lahir di sebuah desa kecil di Perancis pada tanggal 7 Oktober 1803. Orang tuanya adalah petani yang sederhana. Sejak dia masih kecil, dia memiliki keinginan yang kuat untuk pergi ke daerah asing yang terpencil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Dia masuk seminari, dan keinginan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa semakin kuat

Baca Selengkapnya : Santo Jacques-Honoré Chastan


38. Santo Agustinus Yu Chin-gil

Santo Agustinus Yu Chin-gil (1791-1839) berasal dari keluarga pejabat pemerintahan. Diantara para martir dari Korea, dia adalah salah satu dari tiga orang yang memegang jabatan pemerintahan dan juga adalah ayah dari seorang martir yang berusia 13 tahun yaitu Santo Petrus Yu Tae-ch’ol yang juga menjadi martir termuda dalam 103 Martir dari Korea.

Baca Selengkapnya : Santo Agustinus Yu Chin-gil


39. Santa Magdalena Ho Kye-im

Magdalena Ho Kye-im (1773-1839) tinggal di Pongchon bersama dengan keluarganya. Dia menikah dengan Yi, seorang yang bukan umat beriman. Magdalena tidak dapat mengubah keyakinan suaminya, namun dia membesarkan anak-anaknya secara Katolik. Diantara putri-putrinya, Magdalena Yi menjadi martir pada tanggal 20 Juli 1839 dan juga Barbara Yi yang menjadi martir pada tanggal 3 September 1839.

Baca Selengkapnya : Santa Magdalena Ho Kye-im


40. Santo Sebastianus Nam I-gwan

Sebastianus Nam I-gwan (1780-1839) lahir di keluarga bangsawan. Kedua orang tuanya menjadi Katolik pada akhir abad ke 18. Ibunya meninggal ketika dia masih kecil. Ayahnya ditangkap pada tahun 1801 dan meninggal di pengasingan. Pada saat itu, Sebastianus berusia sekitar 20 tahun. Ketika dia berada di pengasingan di Danseong, Provinsi Gyeongsang, dia menikah. Dia belum dibaptis, dan dia hanya mengucapkan doa Bapa Kami dan Salam Maria. Karena dia tidak mempunyai anak, dia mengambil seorang selir, tanpa mengetahui bahwa hal itu salah.

Baca Selengkapnya : Santo Sebastianus Nam I-gwan


41. Santa Yuliet Kim

Yuliet Kim (1784-1839) lahir di wilayah pedesaan. Kedua orang tuanya sangat dipuji oleh Uskup Ferreol sebagai pasangan yang luar biasa. Kemudian, seluruh keluarganya pindah ke Seoul. Kedua orang tuanya ingin supaya dia menikah, namun Yuliet ingin hidup sebagai seorang perawan dan menolak untuk menikah. Untuk membuktikan bahwa keteguhannya, dia memotong rambutnya. Akhirnya, kedua orang tuanya berkata bahwa mereka akan memberikan keputusan ketika rambut dia tumbuh.

Baca Selengkapnya : Santa Yuliet Kim


42. Santa Agatha Chon Kyong-hyob

Agatha Chon Kyong-hyob (1790-1839) lahir di Seoul dari pasangan pagan. Ketika dia masih muda, ayahnya meninggal dan setelah itu dia hidup dengan kondisi yang sangat miskin. Seorang wanita istana yang bernama An Hyong-gwang membantu Agatha dan dia tinggal bersama wanita itu. Beberapa tahun kemudian, kakak laki-laki Agatha berusaha supaya Agatha menikah, namun wanita istana itu tidak memperbolehkan dia pergi.

Baca Selengkapnya : Santa Agatha Chon Kyong-hyob


43. Santo Karolus Cho Shin-chol

Karolus Cho Shin-chol (1795-1839) lahir di Hoeyang, Gangwon-do, dan keluarganya penganut pagan. Dia kehilangan ibunya ketika dia berusia lima tahun, dan ayahnya menghambur-hamburkan semua kekayaan keluarga. Dalam beberapa tahun, pada suatu waktu Karolus dengan kemiskinannya pergi ke sebuah kuil Buddha untuk hidup secukupnya.

Baca Selengkapnya : Santo Karolus Cho Shin-chol


44. Santo Ignasius Kim Che-jun

Ignasius Kim Che-jun (1796-1839) adalah cucu dari Pius Kim Chin-hu yang menjadi martir pada tahun 1814, dia juga ayah dari Pastor Andreas Kim Tae-gon, imam pertama Korea, yang menjadi martir pada tahun 1846. Selama hidupnya, Ignasius menjalani kehidupan Katolik yang sangat saleh. Ketika putranya terpilih oleh para misionaris untuk dikirim ke Makau untuk belajar imamat, Ignasius menyadari akan bahaya yang akan dihadapi seluruh keluarganya dengan mengirimkan salah seorang anggota keluarganya ke luar negeri.

Baca Selengkapnya : Santo Ignasius Kim Che-jun


45. Santa Magdalena Pak Pong-son

Magdalena Pak Pong-son (1796-1839) lahir di keluarga pagan, dia menikah dengan seorang pria pagan pada usia 15 tahun dan dia memiliki dua orang putri. Ketika suaminya meninggal, dia kembali ke rumahnya di Seoul. Pada tahun 1834, ibu tirinya yaitu Cecilia Kim menunggu dia dan membujuk Magdalena supaya dia menjadi seorang Katolik. Magdalena tinggal di rumah saudara laki-laki ibu tirinya, di luar Pintu Gerbang Selatan di Seoul. Dua belas orang miskin tinggal bersama mereka dan Magdalena sangat baik dan bermurah hati kepada mereka, intinya dia lupa akan dirinya sendiri.

Baca Selengkapnya : Santa Magdalena Pak Pong-son


46. Santa Perpetua Hong Kum-ju

Perpetua Hong Kum-ju (1804-1839) lahir di luar kota Seoul. Dia seorang wanita yang berkarakter kuat, cerdas, dalam tata cara maupun bahasanya. Dia dibesarkan di rumah neneknya. Dia menikah dengan seorang pria pagan pada usia 15 tahun, namun entah bagaimana dia dapat menjalankan agamanya. Suaminya meninggal muda, dan dia meninggalkan rumah suaminya itu bersama dengan putranya dan tinggal di Minari-kol.

Baca Selengkapnya : Santa Perpetua Hong Kum-ju


47. Santa Kolumba Kim Hyo-im

Kolumba Kim Hyo-im (1814-1839) lahir pada tahun 1814 dan adiknya yaitu Agnes Kim Hyo-ju (1816-1839) lahir dua tahun kemudian di keluarga pagan di Bamseom, yang berarti pulau kastanya, di tepian sungai Han. Pada asalnya keluarga mereka bukan Katolik, namun ibunya mengawali ketertarikan terhadap iman dan berangsur-angsur semakin dekat dengan iman, namun ayah mereka bukan seorang beriman. Kenyataannya, ayah mereka bahkan tidak mau mendengar tentang Gereja disebutkan di dalam rumahnya dan dengan ketat melarangnya.

Baca Selengkapnya : Santa Kolumba Kim Hyo-im


48. Santa Lusia Kim (Kopch’u)

Perasaan yang umum dari jiwa seorang martir adalah iman dan keberanian. Begitu mengejutkan untuk menemukan perasaan yang berlimpah itu pada diri seorang wanita bernama Lusia Kim (1769-1839). Rahmat Allah dan imannya yang dalam dan juga kerendahan hati digabungkan bersama untuk membentuk seorang wanita sederhana dan martir yang heroik.

Baca Selengkapnya : Santa Lusia Kim (Kopch’u)


49. Santa Katarina Yi

Katarina Yi (1782-1839) dan Magdalena Cho (1806-1839) adalah seorang ibu dan putrinya. Mereka ditangkap bersama, ditempatkan di penjara yang sama dan mereka mati bagi Yesus Kristus pada saat yang hampir bersamaan. Walaupun mereka hidup dalam keadaan sangat miskin di dunia ini selama beberapa tahun, namun Allah memberikan mereka kekayaan surgawi yang abadi.

Baca Selengkapnya : Santa Katarina Yi


50. Santa Magdalena Cho

Katarina Yi (1782-1839) dan Magdalena Cho (1806-1839) adalah seorang ibu dan putrinya. Mereka ditangkap bersama, ditempatkan di penjara yang sama dan mereka mati bagi Yesus Kristus pada saat yang hampir bersamaan. Walaupun mereka hidup dalam keadaan sangat miskin di dunia ini selama beberapa tahun, namun Allah memberikan mereka kekayaan surgawi yang abadi.

Baca Selengkapnya : Santa Magdalena Cho


51. Santo Petrus Yu Tae-chol

Petrus Yu Tae-chol (1826-1839) hanya berusia 13 tahun ketika dia menjadi martir. Ayahnya, Agustinus Yu Chin-gil menjadi martir, namun ibunya tidak menjadi seorang Katolik, dan berusaha keras untuk menghalangi putranya itu dalam menjalankan imannya dan memaksanya untuk mempersembahkan kurban kepada leluhur. Ibunya dan saudarinya berkata kepada Petrus, mengapa dia tidak patuh kepada ibunya. Petrus dengan lembut menjawab bahwa tidak layak mematuhi ibunya dan tidak menaati Raja Surgawi dan Bapa segala ciptaan. Dalam hal lain, kecuali iman, Petrus mematuhi ibunya dengan setia dan berusaha untuk tidak menyinggung keluarganya.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Yu Tae-chol


52. Santa Cecilia Yu So-sa

Cecilia Yu So-sa (1761-1839) adalah seorang istri kedua dari Agustinus Chong Yak-jong yang terkenal, menjadi martir pada tahun 1801, dia juga ibu dari Paulus Chong Ha-sang dan Elisabeth Chong Chong-hye. Cecilia menjadi seorang Katolik melalui bujukan dari suaminya dan kemudian dia menunjukkan banyak keberanian dan iman. Ketika suaminya ditangkap, dia juga ditangkap bersama dengan ketiga anaknya. Kemudian dia dibebaskan bersama dengan anak-anaknya, namun semua harta bendanya disita. Dia pergi untuk tinggal di rumah saudara laki-laki suaminya di Majae (Mahyon) di Gwangju, Provinsi Gyeonggi, namun dia tidak diperlakukan dengan baik.

Baca Selengkapnya : Santa Cecilia Yu So-sa


53. Santo Petrus Choe Chang-hub

Petrus Choe Chang-hub (1786-1840) adalah adik dari Yohanes Choe yang menjadi martir pada tahun 1801, dan juga suami dari Magdalena Son yang dipenggal pada tahun 1840. Petrus lahir sekitar tahun 1789 di keluarga pejabat pemerintahan. Ayahnya meninggal ketika Petrus berusia 13 tahun. Tak lama setelah ayahnya meninggal, Petrus mulai belajar doktrin Katolik, namun dia tidak dibaptis.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Choe Chang-hub


54. Santa Barbara Cho Chung-i

Barbara Cho Chung-i (1781-1839) adalah istri dari Sebastianus Nam I-gwan. Dia lahir pada tahun 1781 di keluarga bangsawan ternama. Dia menikah dengan Sebastianus Nam ketika dia berusia 16 tahun dan melahirkan seorang putra namun putranya meninggal tak lama setelah dilahirkan. Ketika penganiayaan pada tahun 1801, banyak dari kerabatnya menjadi martir, dan suaminya dibuang ke pengasingan.

Baca Selengkapnya : Santa Barbara Cho Chung-i


55. Santa Benedikta Hyon Kyong-nyon

Benedikta Hyon Kyong-nyon (1793-1839) adalah putri dari Hyon Kye-hum yang menjadi martir pada tahun 1801, dia juga menantu perempuan dari Choe Chang-hyon yang menjadi martir pada tahun 1801, dan kakak perempuan dari Karolus Hyon Song-mun yang menjadi martir pada tahun 1846. Pada tahun 1811, Benedikta menikah dengan seorang putra dari Choe Chang-hyon seorang martir yang jaya, namun suaminya meninggal tiga tahun kemudian. Karena dia tidak mempunyai anak, dia kembali kepada ibunya dan mencari nafkah dengan menjahit, dia bersyukur kepada Allah atas kehidupannya yang damai.

Baca Selengkapnya : Santa Benedikta Hyon Kyong-nyon


56. Santa Magdalena Han Yong-i

Magdalena Han Yong-i (1783-1839) adalah ibu dari Agatha Kwon Chin-i. Ketika Magdalena masih muda, dia menikah dengan Kwon Chin, seorang pejabat pemerintahan yang terpelajar yang berasal dari sebuah keluarga bangsawan. Kwon menjadi seorang Katolik ketika dia mencapai usia pertengahan, dan juga dia membuat istrinya yaitu Magdalena menjadi seorang Katolik. Dia dibaptis di akhir hidupnya dan meminta istrinya yaitu Magdalena untuk hidup sebagai seorang Katolik selamanya. Setelah itu, Magdalena hidup dengan sangat miskin namun sangat saleh. Walaupun dia sangat miskin, dia tidak mengeluh namun bersyukur kepada Allah atas kehidupannya yang miskin.

Baca Selengkapnya : Santa Magdalena Han Yong-i


57. Santa Elisabeth Chong Chong-hye

Elisabeth Chong Chong-hye (1796-1839) adalah putri dari martir Agustinus Chong dan Cecilia Yu So-sa dan adik perempuan dari Paulus Chong Ha-sang. Pada tahun 1801, ketika Elisabeth berusia 5 tahun, ayahnya yaitu Agustinus menjadi martir karena imannya. Pada waktu itu, Elisabeth juga ditangkap bersama dengan ibunya yaitu Cecilia dan kedua saudaranya. Pemerintah menyita kekayaan mereka dan melepaskan janda muda itu beserta anak-anaknya.

Baca Selengkapnya : Santa Elisabeth Chong Chong-hye


58. Santa Barbara Ko Sun-i

Barbara Ko Sun-i adalah istri dari martir Agustinus Pak Chong-won dan putri dari Ko Kwang-song yang menjadi martir pada tahun 1801. Dia lahir di Seoul pada tahun 1794. Dia seorang wanita yang memiliki integritas dan juga cerdas. Pada usia 18 tahun, dia menikah dengan Agustinus Pak dan memiliki tiga orang anak. Seluruh keluarga sungguh Katolik.

Baca Selengkapnya : Santa Barbara Ko Sun-i


59. Santa Magdalena Yi Yong-dog

Magdalena Yi Yong-dog (1811-1839) adalah kakak dari Maria Yi In-dog. Magdalena lahir pada tahun 1811 di keluarga bangsawan, namun keluarganya sangat miskin. Dia selalu berperilaku dengan martabat yang luhur dan berkepribadian yang hangat. Dia diajarkan iman Katolik oleh neneknya dan menjadi seorang Katolik bersama dengan ibunya, yaitu Barbara Cho dan kakaknya, Maria Yi. Namun demikian, ayahnya adalah seorang yang anti-Katolik.

Baca Selengkapnya : Santa Magdalena Yi Yong-dog


60. Santa Teresia Kim

Teresia Kim (1797-1840) lahir di Myonch’on, di Provinsi Ch’ngch’ong, dari keluarga martir. Dia adalah bibi dari St. Andreas Kim Tae-gon, imam pertama Korea dan juga dia adalah sepupu dari ayah St. Andreas Kim yaitu St. Ignasius Kim Che-jun. Baik kakeknya yaitu Pius Kim Chin-hu dan ayahnya yaitu Andreas Kim Han-hyon, menjadi saksi bagi Yesus Kristus dengan mati bagi iman mereka setelah hidup di penjara untuk waktu yang lama dan disiksa dengan kejam. Ibu Teresia tak lama kemudian meninggal.

Baca Selengkapnya : Santa Teresia Kim


61. Santa Agatha Yi

Agatha Yi (1824-1840) dipenjarakan bersama dengan ayahnya yaitu Agustinus Yi Kwang-hon, dan juga ibunya yaitu Barbara Kwon Hui, pada tanggal 8 April 1839, ketika dia berusia 17 tahun. Agatha diinterogasi dan disiksa berkali-kali. Kepala polisi berusaha untuk membujuk dia supaya dia menyangkal imannya. Karena usaha yang dilakukan kepala polisi tidak berhasil, dia menggunakan cara yang kejam untuk memaksa Agatha menyerah.

Baca Selengkapnya : Santa Agatha Yi


62. Santo Stefanus Min Kuk-ka

Stefanus Min Kuk-ka (1788-1840) adalah seorang keturunan dari keluarga bangsawan. Dia memiliki kepribadian yang kuat dan hangat. Dia lahir dari keluarga non-Katolik, dan ibunya meninggal ketika dia masih sangat muda. Dia dibaptis bersama dengan ayah dan saudaranya, dan mereka menjalankan agamanya dengan setia. Dia menikah dengan seorang wanita Katolik, namun istrinya meninggal tak lama setelah pernikahan mereka. Dia tidak ingin menikah lagi, namun teman-temannya membujuk dia supaya dia mengambil seorang istri Katolik lainnya. Istri keduanya juga meninggal setelah enam atau tujuh tahun kemudian, dan setelah itu tak lama kemudian putri dari istri keduanya juga meninggal.

Baca Selengkapnya : Santo Stefanus Min Kuk-ka


63. Santo Paulus Ho Hyob

Paulus Ho Hyob (1796-1840) seorang yang sedikit diketahui di antara 103 Santo-santa Martir. Satu-satunya yang kami ketahui tentang dia, bahwa dia berusia 45 tahun ketika menjadi martir. Dia seorang prajurit yang ditugaskan di suatu kamp pelatihan, dan seorang Katolik yang luar biasa. Paulus ditangkap dan disiksa supaya menyangkal agamanya.

Baca Selengkapnya : Santo Paulus Ho Hyob


64. Santo Agustinus Pak Chong-won

Agustinus Pak Chong-won (1793-1840) adalah suami dari martir Barbara Ko. Dia lahir di Seoul. Dia memiliki kepribadian yang hangat, baik dan sarjana yang hebat. Dia juga seorang yang cakap. Sejak dia ditinggalkan ayahnya, ketika dia masih kecil, dia hidup dalam kemiskinan, namun dia tidak mengeluh. Dia taat kepada ibunya, dan melaksanakan tugas-tugasnya dengan setia. Dia menikah dengan Barbara Ko.

Baca Selengkapnya : Santo Agustinus Pak Chong-won


65. Santo Petrus Hong Pyong-ju

Petrus Hong Pyong-ju (1798-1840) dan Paulus Hong Yong-ju adalah kakak beradik. Mereka cucu dari Hong Nang-min yang menjadi martir pada tahun 1801 dan juga keponakan dari Protasius Hong yang menjadi martir pada tahun 1839. Mereka adalah keturunan dari keluarga terpandang dan tinggal di Sosan. Mereka mewarisi imannya dari orang tuanya yang memperbolehkan mereka untuk menjunjung tinggi agama Katolik serta berkontribusi besar untuk Gereja Katolik di Korea.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Hong Pyong-ju


66. Santa Magdalena Son So-byog

Magdalena Son So-byog (1802-1840) adalah istri dari martir Petrus Choe Chang-hub. Dia lahir di Seoul. Karena ayahnya diasingkan demi imannya dan ibunya meninggal muda, Magdalena tinggal dengan neneknya. Situasi keluarga yang miskin membuat dirinya pemalu dan menjauhkan diri dari umat Katolik lainnya, sehingga dia terlambat dalam mempelajari agama Katolik.

Baca Selengkapnya : Santa Magdalena Son So-byog


67. Santa Agatha Yi Kyong-i

Agatha Yi Kyong-i (1814-1840) lahir di sebuah keluarga Katolik, namun dia menikah dengan seorang kasim. Setelah dia memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada Uskup Imbert, beliau menyuruh supaya dia berpisah dengan suaminya. Setelah perpisahan dengan suaminya, Agatha Yi pergi untuk tinggal bersama Agatha Kwon Chin-i, karena ibunya terlalu miskin untuk menghidupinya.

Baca Selengkapnya : Santa Agatha Yi Kyong-i


68. Santa Maria Yi In-dog

Maria Yi In-dog (1818-1840) adalah adik dari martir Magdalena Yi Yong-dog (lihat Surat Berita CBCK No. 71, musim panas 2010). Maria orang yang sangat tenang, jujur dan rendah hati sehingga orang-orang dapat mengenali keberadaannya. Dia ditangkap bersama kakaknya, Magdalena, dan keduanya menunjukkan iman dan keberanian yang mendalam, bukan hanya di dalam penjara namun juga di hadapan para interogator.

Baca Selengkapnya : Santa Maria Yi In-dog


69. Santa Agatha Kwon Chin-i

Agatha Kwon Chin-i (1820-1840) adalah puteri dari seorang pejabat pemerintahan yang bernama Kwon dan istrinya yaitu Magdalena Han, yang menjadi martir pada tanggal 29 Desember 1839. Dia menikah ketika dia masih berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Namun, Agatha tinggal dengan salah seorang kerabatnya, karena suaminya terlalu miskin untuk memiliki sebuah rumah. Mereka hanya melaksanakan upacara perkawinan.

Baca Selengkapnya : Santa Agatha Kwon Chin-i


70. Santo Paulus Hong Yong-ju

Petrus Hong Pyong-ju dan Paulus Hong Yong-ju (1801-1840) adalah kakak beradik. Mereka cucu dari Hong Nang-min yang menjadi martir pada tahun 1801 dan juga keponakan dari Protasius Hong yang menjadi martir pada tahun 1839. Mereka adalah keturunan dari keluarga terpandang dan tinggal di Sosan. Mereka mewarisi imannya dari orang tuanya yang memperbolehkan mereka untuk menjunjung tinggi agama Katolik serta berkontribusi besar untuk Gereja Katolik di Korea.

Baca Selengkapnya : Santo Paulus Hong Yong-ju


71. Santo Yohanes Yi Mun-u

Yohanes Yi Mun-u (1810-1840) lahir di Ichon di Provinsi Kyonggi di sebuah keluarga bangsawan Katolik. Ketika dia berusia lima tahun, kedua orang tuanya meninggal. Seorang wanita Katolik yang sangat saleh mengadopsi dia dan membawa dia ke Seoul. Yohanes tidak ingin menikah, namun ibu angkatnya bersikeras supaya dia menikah. Setelah istri dan kedua anak Yohanes meninggal, dia menjalani kehidupan seorang diri dan membaktikan dirinya untuk kegiatan amal dan membantu para misionaris dan umat Katolik.

Baca Selengkapnya : Santo Yohanes Yi Mun-u


72. Santa Barbara Choe Yong-i

Barbara Choe Yong-i (1819-1840) adalah putri dari Magdalena Son So-byog, salah satu dari 103 Santo-santa Martir. Barbara seorang yang sangat taat sejak dia masih gadis muda. Ketika kedua orang tuanya berusaha merancang perkawinannya, dia berkata pasangan yang dia inginkan adalah seorang Katolik yang sangat taat. Dia berkata bahwa dia tidak terlalu peduli pada suami yang bangsawan ataupun kaya. Sehingga dia menikah dengan pria yang jauh lebih tua yaitu dengan Karolus Cho yang berusia 44 tahun.

Baca Selengkapnya : Santa Barbara Choe Yong-i


73. Santo Antonius Kim Song-u

Antonius Kim Song-u (1794-1841) lahir pada tahun 1794 dan tinggal di Kusan di Provinsi Kyonggi. Dia seorang yang jujur dan murah hati dan juga dikenal karena dia kaya. Berdasarkan seorang saksi, Antonius adalah seorang yang berkepribadian yang hangat dan murah hati dan dia dihormati orang-orang bahkan oleh orang-orang non-Katolik. Cucu buyutnya, seperti kakeknya, yang kemudian sangat dihormati di kampung halaman mereka.

Baca Selengkapnya : Santo Antonius Kim Song-u


74. Santo Karolus Hyon Song-mun

Karolus Hyon Song-mun (1799-1846) dipenggal tiga hari setelah eksekusi Pastor Andreas Kim. Karolus adalah salah seorang yang memperkenalkan Uskup Imbert ke Korea dan membantu Pastor Chastan berkeliling dalam berbagai kunjungan misi. Dia lahir di Seoul pada tahun 1799. Ayahnya menjadi mertir pada tahun 1801 dan istri dan anaknya meninggal di penjara pada tahun 1839. Kakak perempuannya yaitu Benedikta Hyon juga menjadi martir sebelumnya.

Baca Selengkapnya : Santo Karolus Hyon Song-mun


75. Santo Petrus Nam Kyong-mun

Petrus Nam Kyong-mun (1796-1846) lahir di Seoul pada tahun 1796. Ketika dia masih muda, dia adalah seorang tentara, dan kemudian dia bekerja sebagai penjual kerang asin. Petrus menikah dengan Barbara Ho ketika dia berusia 22 tahun. Dia dipertobatkan oleh Petrus Pak dan dibaptis. Sebelum Petrus mengetahui tentang doktrin Katolik, dia melakukan peminjaman uang dengan bunga yang tinggi.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Nam Kyong-mun


76. Santo Laurensius Han I-hyong

Laurensius Han I-hyong (????-1846) lahir di sebuah keluarga bangsawan di Doksan di Provinsi Ch’ungch’ong. Dia memiliki karakter yang kuat dan semangat pengorbanan diri. Dia belajar katekismus ketika dia berusia 14 tahun. Beberapa minggu kemudian, Laurensius menjadi seorang Katolik yang taat. Dia menghabiskan waktu berjam-jam di depan salib sambil merenung dan menyesali dosa-dosa masa lalunya.

Baca Selengkapnya : Santo Laurensius Han I-hyong


77. Santa Susanna U Sur-im

Susanna U (????-1846) adalah seorang putri dari sebuah keluarga bangsawan pagan di Yungju di Provinsi Kyonggi. Pada usia 15 tahun, dia menikah dengan seorang pria dari keluarga Katolik di Inch’on, dan kemudian dia menjadi Katolik. Pada tahun 1828, dia pernah ditangkap, dia dipenjarakan selama beberapa minggu dan disiksa dengan kejam. Namun, ketika dia hamil, dia dibebaskan dan dipulangkan.

Baca Selengkapnya : Santa Susanna U Sur-im


78. Santo Yosef Im Chi-baeg

Yosef Im Chi-baeg (1804-1846) adalah seorang pagan sampai pada hari dia ditangkap. Dia lahir di sebuah desa kecil di dekat sungai Han, tidak jauh dari Seoul. Ketika Yosef masih muda, ibunya meninggal, dan ayahnya begitu mencintainya. Yosef tumbuh menjadi seorang anak yang baik. Dia mengikuti sekolah tradisional Korea selama sepuluh tahun untuk belajar sastra Mandarin. Kemudian dia ikut terlibat dalam perdagangan. Dia sangat hebat dalam olahraga, musik, puisi, seni, dan sebagainya.

Baca Selengkapnya : Santo Yosef Im Chi-baeg


79. Santa Teresia Kim Im-i

Teresia Kim (1811-1846) adalah salah seorang dari wanita-wanita saleh yang ditangkap pada tanggal 10 Juli 1846, di rumah Karolus Hyon. Teresia lahir pada tahun 1811 di Seoul di sebuah keluarga Katolik. Sejak muda, dia sangat suka membaca kisah para kudus dan meniru kebajikan mereka. Ketika dia berusia 17 tahun, dia memutuskan untuk tetap perawan.

Baca Selengkapnya : Santa Teresia Kim Im-i


80. Santa Agatha Yi Kan-nan

Agatha Yi (1813-1846) adalah salah seorang dari empat wanita yang ditangkap di rumah Karolus Hyon pada tanggal 10 Juli 1846. Agatha lahir dari orang tua pagan pada tahun 1813. Pada usia 18 tahun, dia menikah namun suaminya meninggal dua tahun kemudian. Pada tahun 1834, dia mendengar tentang agama Katolik.

Baca Selengkapnya : Santa Agatha Yi Kan-nan


81. Santa Katarina Chong Chor-yom

Katarina Chong (????-1846) ditangkap bersama dengan tiga wanita lainnya di rumah Karolus Hyon pada tanggal 10 Juli 1846. Katarina lahir dari seorang pembantu wanita. Ada yang mengatakan bahwa dia dibaptis sejak bayi, dan ada juga yang berkata bahwa dia menjadi Katolik ketika dia berusia 16 atau 18 tahun. Sifatnya ramah, tapi hatinya sangat berani.

Baca Selengkapnya : Santa Katarina Chong Chor-yom


82. Santo Petrus Yu Chong-nyul

Katekis Yu Chong-nyol (1836-1866) lahir pada tahun 1836 di Nonje di Pyongyang. Dia menjadi yatim piatu ketika masih kecil. Dia sangat miskin, dan dia mencari nafkah dengan menjual sepatu jerami. Dia mudah sekali marah dan suka memperlakukan istrinya dengan kasar. Dia juga suka berjudi. Sekitar tahun 1863 atau 1864 dia belajar agama Katolik.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Yu Chong-nyul


83. Santo Siméon François Berneux

Uskup Berneux (1814-1866) lahir pada tanggal 14 Mei 1814 di Mans, Perancis. Dia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ibunya seorang wanita yang sangat saleh, dan memberikan pendidikan Kristen yang baik kepada Siméon. Ketika dia berusia sepuluh tahun, dia berkata kepada ibunya bahwa dia ingin menjadi seorang imam.

Baca Selengkapnya : Santo Siméon François Berneux


84. Santo Simon-Marie-Just Ranfer de Bretenières

Pastor De Bretenières (1838-1866) lahir di Châlonsur-Saone, Perancis pada tanggal 28 Februari 1838, putra dari Hakim De Bretenières (Baron) dan istrinya Anne yang bukan hanya orang Katolik yang baik namun juga melakukan banyak karya amal. Mereka tertarik untuk memberikan pendidikan agama dan kedisiplinan kepada anak-anaknya. Akibatnya, De Bretenières muda memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi misionaris asing di Tiongkok sejak dia berusia tiga tahun.

Baca Selengkapnya : Santo Simon-Marie-Just Ranfer de Bretenières


85. Santo Pierre-Henri Dorie

Pierre Henri Dorie (1839-1866) lahir pada tanggal 23 September 1839, putra keenam dari pasangan suami istri petani sederhana yang bekerja di sebuah ladang di St. Hillaire di Talmont, Perancis. Kedua orang tuanya tidak terpelajar namun sangat saleh. Pastor dari gereja setempat tertarik kepada Dorie dan merekomendasikan supaya dia masuk ke seminari pada tahun 1852.

Baca Selengkapnya : Santo Pierre-Henri Dorie


86. Santo Bernard-Louis Beaulieu

Bernard Louis Beaulieu (1840-1866) lahir pada tanggal 8 Oktober 1840 di Langon, Perancis, dia putra dari ibu yang berusia 19 tahun. Ayahnya meninggal lima bulan setelah menikah. Ibunya seorang wanita yang sangat saleh dan mendedikasikan putranya kepada Bunda Yang Terberkati. Kemudian ibunya menikah dengan Tuan M. Dufour, seorang duda dan ayah dari seorang putri, yang bertujuan untuk memberikan pendidikan untuk putranya.

Baca Selengkapnya : Santo Bernard-Louis Beaulieu


87. Santo Yohanes Pembaptis Chon Chang-un

Yohanes Chon Chаng-un (1811-1866) lahir dі Sеоul раdа tahun 1811 dаn dіbарtіѕ oleh іbunуа yang ѕаlеh. Tаk lаmа ѕеtеlаh dіа lahir, ayahnya mеnіnggаl. Dі usianya уаng mаѕіh sangat muda, Yоhаnеѕ hаruѕ mеnаfkаhі keluarganya dеngаn bеrtаnі dаn membuat tas kulit.

Baca Selengkapnya : Santo Yohanes Pembaptis Chon Chang-un


88. Santo Petrus Choe Hyong

Pеtruѕ Chое Hуоng (1809-1866) lahir dі Kongju раdа tahun 1809. Aуаhnуа уаng dіbарtіѕ ketika mаѕіh bеruѕіа 20 tаhun mеmіlіkі tiga оrаng рutrа. Sеluruh kеluаrgаnуа dіdеdіkаѕіkаn kераdа Allаh. Petrus уаng belajar lіtеrаtur Mаndаrіn ѕеjаk mаѕіh аnаk-аnаk hаruѕ mеmbіауаі kеluаrgаnуа уаng miskin dеngаn bеrtаnі.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Choe Hyong


89. Santo Markus Chong Ui-bae

Katekis Markus Chong Ui-bae (1794-1866) lahir pada tahun 1794 di Provinsi Gyeonggi di keluarga bangsawan yang membenci umat Katolik. Markus menyelesaikan pembelajaran untuk ujian pemerintah dan juga mengajar anak-anak. Dia menikah, namun tak lama istrinya meninggal, dan Markus hidup bertahun-tahun sebagai seorang duda tanpa anak.

Baca Selengkapnya : Santo Markus Chong Ui-bae


90. Santo Alexius U Se-yong

Alexius U Se-yong (1845-1866) lahir pada tahun 1845 di Seoheung di Provinsi Hwanghae. Dia adalah putra ketiga di sebuah keluarga bangsawan yang kaya raya. Dia menerima pendidikan sistematis bersama dengan saudara-saudaranya. Alexius sangat cerdas dan siap untuk mengikuti ujian Negara pada usia 16 tahun. Pada saat itu, dia mendengar tentang agama Katolik dari Katekis Yohanes Kim. Dia meminta izin kepada ayahnya untuk dibaptis, namun ayahnya sangat tidak setuju.

Baca Selengkapnya : Santo Alexius U Se-yong


91. Santo Marie-Nicolas-Antoine Daveluy

Marie Nicholas Antoine Daveluy lahir pada tanggal 16 Maret 1818 di Amiens, Perancis dari sebuah keluarga berpengaruh. Ayahnya adalah pemilik pabrik dan seorang anggota dewan kota serta seorang pejabat pemerintah. Keluarganya juga dikenal baik di kota itu karena devosi dan imannya.

Baca Selengkapnya : Santo Marie-Nicolas-Antoine Daveluy


92. Santo Martin-Luc Huin

Martin Luc Huin lahir di Guyonville, Perancis pada tanggal 20 Oktober 1836, dia adalah yang paling muda dari sembilan bersaudara. Dia biasa dipanggil hanya dengan nama Luc. Kedua orang tuanya adalah petani kebun anggur yang saleh. Ayahnya bangga akan tradisi keluarganya yaitu setiap generasi keluarganya ada seorang imam. Ibunya seorang wanita yang sama salehnya.

Baca Selengkapnya : Santo Martin-Luc Huin


93. Santo Pierre Aumaître

Pierre Aumaître (1837-1866) lahir pada tanggal 8 April 1837, di sebuah desa kecil di Angouleme, dia adalah anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya adalah seorang petani kecil dan pembuat sepatu. Dia dan istrinya adalah umat Katolik yang saleh. Pierre muda adalah seorang anak laki-laki yang baik, namun dia tidak terlalu pandai dan ingatannya buruk.

Baca Selengkapnya : Santo Pierre Aumaître


94. Santo Yosef Chang Chu-gi

Katekis Yosef Chang Chu-gi (1802-1866) lahir pada tahun 1802 di sebuah keluarga kaya raya di Suwon. Chang belajar sastra Tiongkok, dia diajarkan oleh saudari iparnya. Ketika dia berusia 26 tahun, dia sakit di Yangji dan dia dibaptis oleh Pastor Pasifikus Yu Pang-ji seorang imam Tiongkok dan juga imam kedua yang datang ke Korea. Dia juga mengupayakan istri dan anak-anaknya dibaptis.

Baca Selengkapnya : Santo Yosef Chang Chu-gi


95. Santo Lukas Hwang Sok-tu

Katekis Lukas Hwang Sok-tu (1811-1866) lahir di Yŏnp’ung di Provinsi Ch’ungch’ŏng Utara pada tahun 1811, dia anak tunggal dari keluarga bangsawan yang kaya. Ayahnya membiarkan dia belajar supaya lulus ujian negara untuk kebanggaan seluruh keluarga. Pada usia 20 tahun dia pergi ke Seoul untuk mengikuti ujian.

Baca Selengkapnya : Santo Lukas Hwang Sok-tu


96. Santo Thomas Son Cha-son

Thomas Son Cha-soun (1836-1866) lahir pada tahun 1836 di Hongsoung di Provinsi Ch’ung-ch’ŏng. Dia berasal dari keluarga martir Katolik yang saleh. Ketika dia berusia 23 tahun, penganiayaan tahun 1866 dimulai.

Baca Selengkapnya : Santo Thomas Son Cha-son


97. Santo Bartolomeus Chong Mun-ho

Bartolomeus Cheong Mun-ho (1801-1866) lahir pada tahun 1801 di Imcheon di Provinsi Ch’ung-ch’ŏng, dia tinggal di Provinsi Cheolla. Sebelum dia dibaptis, dia menjabat sebagai gubernur di suatu daerah. Ketika penganiayaan baru dimulai, dia berusia 65 tahun.

Baca Selengkapnya : Santo Bartolomeus Chong Mun-ho


98. Santo Petrus Cho Hwa-so

Petrus Cho Hwa-so (1814-1866) lahir di Suwon pada tahun 1814, putra dari Andreas Cho yang menjadi martir pada tahun 1839. Kemudian dia pindah ke Sinchang di Provinsi Ch’ung-ch’ŏng dan bekerja sebagai asisten Pastor Thomas Choe Yang-eop. Pada tahun 1864, dia pindah ke Jeonju untuk bertani. Dia menikah dengan Magdalena Han dan mereka dikaruniai seorang putra bernama Yosef Cho.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Cho Hwa-so


99. Santo Petrus Son Son-ji

Katekis Petrus Son Seon-ji (1819-1866) adalah salah satu dari martir heroik Korea yang lahir pada tahun 1819. Dia menghadapi penganiayaan pada usia 47 tahun. Pada masa itu, dia menikah dan dikaruniai dua orang anak. Walaupun Petrus bukan Katolik sejak lahir (Ayahnya masih seorang katekumen ketika Petrus lahir),.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Son Son-ji


100. Santo Petrus Yi Myong-so

Petrus Yi Myong-so (1820-1866) lahir pada tahun 1820 di Provinsi Ch’ung-ch’ŏng dari keluarga yang secara tradisional beragama Katolik. Setelah merantau di berbagai tempat, dia menetap di Chonju. Petrus menikah dan dikaruniai banyak anak, menjalani kehidupan yang sangat saleh dan dicintai dan dihormati oleh orang-orang di sekitarnya.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Yi Myong-so


101. Santo Yosef Han Chae-kwon

Katekis Han Jae-kwon (1835-1866) lahir di Imcheon di Provinsi Chungcheong, namun dia tinggal di Taesongdong di Cheonju ketika penganiayaan dimulai. Sebelum Yosef pindah ke Taesongdong, dia adalah seorang katekis, namun di Taesongdong dia tidak bertindak sebagai seorang katekis. Dia hidup sebagai seorang umat Katolik pada umumnya.

Baca Selengkapnya : Santo Yosef Han Chae-kwon


102. Santo Petrus Chong Won-ji

Petrus Choung Woun-ji (1845-1866) lahir pada tahun 1845 dari kelaurga Katolik yang sangat saleh di Chinjam di Provinsi Ch’ungch’oung. Ketika penganiayaan dimulai pada tahun 1866, dia seorang yatim piatu. Ayahnya terlebih dahulu menjadi martir, dan ibunya juga sudah meninggal.

Baca Selengkapnya : Santo Petrus Chong Won-ji


103. Santo Yosef Cho Yun-ho

Yosef Cho Yun-ho (1848-1866) lahir pada tahun 1848. Ketika penganiayaan dimulai, dia berusia 17 tahun. Karena Yosef baru saja menikah, dia dan istrinya tinggal bersama orang tua mereka. Iman Yosef begitu mendalam dan dia mematuhi semua aturan Gereja dengan setia.

Baca Selengkapnya : Santo Yosef Cho Yun-ho

Demikianlah daftar nama dari 103 Martir Korea
Blogevan.com
Blogevan.com Download App di Play Store Klik Disini