Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Santa Barbara Choe Yong-i

martir korea

Martir Korea - Barbara Choe Yong-i (1819-1840) adalah putri dari Magdalena Son So-byog, salah satu dari 103 Santo-santa Martir. Barbara seorang yang sangat taat sejak dia masih gadis muda. Ketika kedua orang tuanya berusaha merancang perkawinannya, dia berkata pasangan yang dia inginkan adalah seorang Katolik yang sangat taat. Dia berkata bahwa dia tidak terlalu peduli pada suami yang bangsawan ataupun kaya. Sehingga dia menikah dengan pria yang jauh lebih tua yaitu dengan Karolus Cho yang berusia 44 tahun. Pada saat itu Barbara berusia 20 tahun. Pada tahun berikutnya, dia melahirkan seorang putra. Pasangan itu saling menguatkan dalam kebajikan dan menjalankan agama mereka dengan setia.


Ketika Barbara ditangkap, dia membawa putranya ke penjara. Sangat sulit bagi seorang bayi untuk tinggal di dalam penjara. Di sana begitu kotor tanpa adanya udara segar, cahaya maupun makanan yang cukup. Sehingga Barbara mengirimkan putranya itu ke salah seorang sanak saudaranya. Dia merasa takut kalau puteranya akan melemahkan kesetiaan imannya.

Interogator memintanya supaya dia menyerah dari imannya dan membeberkan nama-nama kenalan Katoliknya dan juga siapa pemilik tulisan rohani yang ditemukan di rumahnya. Barbara tidak akan menyangkal Allah dan dia berkata bahwa dirinya masih terlalu muda untuk mengenal orang-orang Katolik, oleh karena itu dia disiksa dengan kejam. Dia dipukuli sebanyak 250 kali dan tubuhnya dipelintir.


Dia menulis sepucuk surat yang isinya sebagai berikut: “Betapa sedihnya saya karena kehilangan kedua orang tua saya dalam kemartiran! Namun ketika saya memikirkan Surga, saya merasa terhibur dan bersyukur kepada Allah atas hak istimewa kemartiran. Hati saya merasa penuh suka cita!”

Pada tanggal 1 Februari 1840, Barbara dibawa ke Tangkogae di dekat kota Seoul dan dipenggal di sana bersama dengan Yohanes Yi dan Paulus Hong. Ketika menjadi martir, Barbara berusia 22 tahun. Pada hari sebelumnya, ibunya Barbara telah menjadi martir. Berdasarkan hukum Korea pada saat itu, seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan tidak boleh dibunuh pada hari yang sama.

© Renungan Harian Katolik
Blogevan.com
Blogevan.com Download App di Play Store Klik Disini