Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Santa Magdalena Kim Ob-i

martir korea

Santa Magdalena Kim Ob-i lahir pada tahun 1774 di kota Seoul. Ia dibabtis menjadi Katolik sejak kecil dan beranjak dewasa dengan iman yang kokoh. Seumur hidupnya ia selalu berupaya untuk menjalani hidup kudus sesuai ajaran iman Kristiani. Ia adalah seorang wanita katolik sejati yang siap melayani Tuhan dengan cara terbaik dan selalu patuh pada hirarki Gereja.

Dimasa muda, Agatha memimpikan untuk mengucapkan kaul kemurnian namun impiannya tidak bisa terwujud. Kedua Orang tuanya yang bukan Katolik tidak bisa memahami niat mulianya itu. Magdalena muda tidak dapat menentang kehendak orang tuanya hingga akhirnya ia pun menikah. Rahmat Tuhan rupanya selalu menyertai Magdalena, suaminya adalah seorang Katolik begitu juga dengan para kerabatnya. Namun sayangnya, Magdalena kemudian kehilangan sang suaminya dan juga anak-anaknya.

Setelah kematian ibunya beberapa waktu kemudian, Magdalena lalu berkaul untuk menyerahkan sisa hidupnya bagi Tuhan. Ia banyak terlibat dalam berbagai di Gereja dan menjadi guru agama yang mengajar katekese kepada para tetangganya. Kepribadian Magdalena Kim Ob-i begitu menyenangkan sehingga banyak orang suka mendengarkan pelajaran agama darinya. Pada masa-masa inilah pemerintah Korea mulai menganiaya umat Katolik. Magdalena sama sekali tidak merasa gentar. Ia bertekad untuk menyerahkan hidupnya bagi bagi Gereja Kristus, bila diperlukan.

Magdalena Kim Ob-i dan Santa Barbara Han A-gi ditangkap bersama-sama pada bulan September 1836. Tidak diketahui dengan pasti apakah Santa Agatha Kim A-gi ditangkap bersama mereka atau di rumahnya sendiri. Dalam suatu kejadian, mereka bertiga dibawa ke tahanan pada hari yang sama.

Pada bulan September 1836 Santa Magdalena Kim Ob-i dan Santa Barbara Han A-gi ditangkap bersama-sama. Tidak diketahui dengan pasti apakah Santa Agatha Kim A-gi juga ditangkap saat bersama mereka atau di rumahnya sendiri. Dalam suatu kejadian, mereka bertiga dibawa ke penjara bersama-sama.

Di penjara mereka berkumpul bersama beberapa umat Katolik yang telah ditangkap duluan. Mereka adalah Santo Damianus Nam Myong-hyok yang ditahan dengan tuduhan menyembunyikan jubah Uskup, Santo Petrus Kwon Tug-in yang dituduh menjual salib dan gambar-gambar suci, Santa Anna Pak A-gi yang tetap berada di penjara walaupun suami dan anaknya telah murtad, dan Santa Agatha Yi, kakak perempuan dari Santo Petrus Yi Ho-yong.

Setelah menjalani penyiksaan yang mengerikan, hukuman mati dijatuhkan kepada Damianus Nam Myong-hyok, Petrus Kwon Tug-in dan Anna Pak A-gi pada tanggal 11 Mei 1839. Pada hari berikutnya, Agustinus Yi Kwang-hon dan Lusia Pak Hui-sun juga dijatuhi hukuman mati. Tiga hari kemudian Magdalena Kim Ob-i, Barbara Han A-gi, dan Agatha Kim A-gi juga dihukum karena mempercayai iman Katolik dan menolak untuk murtad. Para pahlawan iman ini akan dieksekusi bersama-sama pada tanggal 24 mei 1839.

Proses eksekusi para martir ini di digambarkan oleh Santo Karolus Cho Shin-ch’ol  sebagai berikut,

“Pada hari yang sudah ditentukan, sebuah gerobak sapi dengan palang yang lebih tinggi daripada tinggi rata-rata orang saat itu didirikan bagi mereka. Kemudian mereka dibawa keluar dari penjara. Ketika semuanya sudah siap, para penjaga membawa para tahanan dan mengikat tangan dan rambut mereka pada palang tersebut. Sebuah penahan kaki dipasangkan di kaki mereka dan sinyal keberangkatan dibunyikan. Ketika mereka tiba di bukit yang curam di mana Pintu Gerbang Kecil Barat berada, para penjaga tiba-tiba menarik penahan kaki mereka dan pengemudi gerobak memaksa sapi-sapi itu untuk berlari ke bawah. Jalannya kasar dan berbatu. Gerobak meluncur dan menyebabkan penderitaan hebat bagi para tahanan yang tangan dan rambut mereka digantung pada kayu palang itu. Di tempat eksekusi yang berada di kaki bukit. Para penjaga melepaskan para tahanan dari palang itu dan merobek pakaian mereka. Algojo mengikat rambut mereka pada balok kayu lalu mereka memenggal kepala mereka.”

Di catatan pengadilan waktu itu tertulis sebagai berikut, “Pada tanggal 12 April, Agustinus Yi Kwang-hon, Petrus Kwon Tug-in dan yang lainnya, yang bukan penjahat, mereka semua dieksekusi karena mengikuti agama palsu.”

Uskup Imbert menulis tentang kemartiran mereka :  

“Dengan susah-payah kami akhirnya bisa memperoleh jenazah mereka pada tanggal 27 April dini hari. Kami memakamkan jenazah para martir ini pada tempat yang sudah disiapkan sebelumnya. Pada mulanya saya menginginkan jenazah mereka agar dipakaikan pakaian yang bagus dan diminyaki dengan parfum yang mahal, sesuai tata cara penguburan di Eropa.  Namun kami hanyalah orang-orang miskin dan menguburkan mereka dengan cara demikian hanya akan membebani umat Katolik, sehingga kami hanya membungkus jenazah mereka dengan tikar jerami. Sekarang kami memiliki banyak pelindung dari surga. Ketika hari kebebasan beragama terwujud di Korea, sebagai mana kita tahu itu akan terjadi, jenazah mereka akan menjadi warisan iman yang berharga.”

Santa Agatha Kim A-gi, Santa Magdalena Kim Ob-i, dan Santa Barbara Han A-gi dibeatifikasi pada tanggal 5 Juli 1925. Mereka dikanonisasi bersama 103 Martir Korea pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

© Blogevan.com

Blogevan.com
Blogevan.com Download App di Play Store Klik Disini