Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Santo Petrus Yu Tae-chol

martir korea
Martir Korea - Petrus Yu Tae-chol (1826-1839) hanya berusia 13 tahun ketika dia menjadi martir. Ayahnya, Agustinus Yu Chin-gil menjadi martir, namun ibunya tidak menjadi seorang Katolik, dan berusaha keras untuk menghalangi putranya itu dalam menjalankan imannya dan memaksanya untuk mempersembahkan kurban kepada leluhur. Ibunya dan saudarinya berkata kepada Petrus, mengapa dia tidak patuh kepada ibunya. Petrus dengan lembut menjawab bahwa tidak layak mematuhi ibunya dan tidak menaati Raja Surgawi dan Bapa segala ciptaan. Dalam hal lain, kecuali iman, Petrus mematuhi ibunya dengan setia dan berusaha untuk tidak menyinggung keluarganya.


Ketika penganiayaan terjadi, Petrus berkeinginan kuat untuk menjadi seorang martir. Dengan sangat tergerak hatinya dan terkesan dengan teladan heroik dari ayahnya yang dipenjarakan dan para martir lainnya, Petrus muda tidak dapat mengendalikan cintanya yang emosional kepada Allah dan dia menyerahkan dirinya kepada aparat pemerintahan pada bulan Juli 1839. Setelah diinterogasi berkali-kali oleh hakim mengetahui bahwa Petrus adalah putra dari sebuah keluarga Katolik dan dia dipenjarakan. Petrus dibawa ke pengadilan. Hakim mencoba segala cara untuk membuat Petrus menyangkal Allah. Petrus dibujuk, diancam, dan disiksa, namun dia tidak menyangkal Allah.

Suatu hari seorang sipir penjara memukul kaki Petrus dengan begitu keras dengan pipa tembakau yang panjang, dan sepotong dagingnya robek. Sipir penjara itu berkata, “Apakah kamu masih percaya kepada Allah?” Petrus menjawab, “Ya, tentu saja. Saya tidak takut dipukul.” Sipir penjara itu mengancamnya untuk memasukkan arang panas ke dalam mulut Petrus. Petrus membuka mulutnya dan berkata bahwa dia sudah siap. Sipir penjara itu tidak bisa memaksa dirinya untuk memasukkan arang ke mulut Petrus. Mereka semua yang berada di penjara mengagumi keberaniannya. Suatu hari, Petrus dipukul dengan sangat kejam sehingga dia pingsan. Setelah teman satu sel membantu dia untuk memulihkan kesadarannya, dia berkata, “Jangan khawatir. Saya tidak akan mati karena penderitaan ini.”

Petrus diinterogasi sebanyak 14 kali dan disiksa sebanyak 14 sesi penyiksaan yang berbeda. Dia dicambuk sebanyak 600 kali dan dipukuli dengan pentungan sebanyak 45 kali. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka, tulangnya patah dan dagingnya terkoyak. Namun sangat ajaib bagi Petrus muda selalu memiliki wajah yang bahagia dan suka tersenyum. Keberaniannya benar-benar bisa disebut sebagai mukjizat. Cintanya kepada Allah sepertinya mengubah wajahnya dan menertawakan orang-orang dewasa yang menyiksanya. Petrus mengambil sepotong daging yang lepas dari bahunya dan melemparkannya kepada sipir penjara. Semua orang di sekitarnya merasa terkejut dan malu. Tak seorangpun bisa percaya bahwa seorang anak laki-laki berusia 13 tahun disiksa dengan kejam, namun sedikitnya ada sepuluh orang saksi yang memberikan kesaksian akan penyiksaan dan keberanian Petrus.

Pejabat pemerintah ingin memukul Petrus sampai mati, namun Petrus yang pemberani tidak mati. Sehingga dia dicekik sampai mati di penjara pada tanggal 31 Oktober 1839 pada usia 13 tahun.

Petrus Yu adalah salah seorang martir Korea yang paling hebat. Dia adalah contoh bagi semua anak-anak Korea. Korea sangat bangga kepada yang paling muda di antara 103 Santo-santa Martir.

Versi lainnya bisa dilihat di bawah ini:

Petrus adalah putra dari Agustinus, penerjemah pemerintah. Dia menjadi pengikut jejak ayahnya yang setia dalam kebajikan. Suatu hal yang luar biasa apa yang telah dia lakukan untuk menahan perlakuan buruk dari ibunya, saudari-saudarinya, dan juga dari mereka yang secara terang-terangan mengaku sebagai musuh agama Kristen. Anak kecil ini, telah diyakinkan bahwa dia tidak akan pernah dapat untuk menghindari pencarian oleh departemen hukum, dia pergi ke pengadilan untuk menyerahkan diri. Dia disiksa delapan kali dab menerima enam ratus cambukan ‘tongkat’. Empat belas kali algojo mengancam dia, dan memperlakukan dia dengan melukai dan kebiadaban. Dia menerima empat puluh pukulan ‘papan’. Selama penyiksaan dia, dia menunjukkan keteguhan yang kuat dan sangat tenang, sehingga para algojo merasa sangat takjub. Dia mengambil sedikit dagingnya yang menggantung di tubuhnya hanya dengan menyayat kulit lembutnya, dan melemparkannya di hadapan hakim dengan senyuman. Di penjara dia adalah seorang rasul; dia menguatkan mereka yang merasa kecewa, dan menasihati mereka yang murtad supaya bertobat. “Kamu adalah seorang katekis dan seorang pria dewasa,” kata seorang dari mereka; “Saya hanya seorang anak kecil; Andalah yang seharusnya menasihati saya untuk lebih berani menderita; bagaimana mungkin kita bisa dalam posisi yang terbalik? Kembalilah menjadi diri Anda sendiri, dan mati bagi Yesus Kristus.” Petrus dicekik di penjara, pada tanggal 31 Oktober pada usia tiga belas tahun.

© Renungan Harian Katolik

Blogevan.com
Blogevan.com Download App di Play Store Klik Disini