Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Santo Heironimus

Santo Heironimus

30 September

Pada hari ini, tanggal 30 September –  hari terakhir dalam Bulan Kitab Suci – Gereja memperingati seorang kudus besar dalam Gereja pada umumnya dan di bidang perkitabsucian khususnya, yaitu Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja. Dalam rangka peringatan 15 abad kematiannya, Paus Benediktus XV mengeluarkan surat Ensiklik SPIRITUS PARACLITUS (15 September 1920) di mana dikemukakan berbagai keutamaan Hieronimus, sumbangsihnya kepada Gereja dan lain sebagainya.

Cintakasihnya kepada Allah dan Putera-Nya, Yesus Kristus, luarbiasa intens. Siapa saja yang mengajarkan kesesatan bagi Hieronimus adalah musuh Allah dan kebenaran. Dalam situasi seperti itu, Hieronomus akan ‘menghantam’ para pengajar sesat dengan tulisan-tulisannya yang penuh kuasa dan kadang-kadang sarkastis itu. Hieronimus pertama-tama dan terutama adalah seorang pakar Kitab Suci. Ucapannya yang terkenal adalah: “IGNORATIO SCRIPTURARUM IGNORATIO CHRISTI EST … “Tidak kenal Kitab Suci, tidak kenal Kristus!” ‘Dalil’ ini dikemukakan olehnya dalam prolog komentar-komentarnya atas Kitab Yesaya (DIVINE OFFICE III, hal. 301*)




Eusebius Hieronimus Sophronius dilahirkan di Stridon yang terletak dekat Aquileia, Italia. Ayahnya, Eusibius, adalah seorang Kristiani yang hidup saleh dan dikenal sebagai seorang tuan tanah yang kaya raya. Ia mendidik Hieronimus sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan hidup Kristiani dan kebiasaan kerja keras. Ketika Hieronimus berumur 12 tahun, Eusebius mengirim anaknya untuk studi ilmu hukum dan filsafat di Roma. Studinya berjalan lancar, hanya cara hidupnya sajalah yang tidak tertib karena  pengaruh buruk kehidupan moral orang Roma yang tidak baik pada masa itu. Namun berkat rahmat Allah Hieronimus cepat disadarkan dan bertobat dari cara hidupnya yang tidak baik itu. Pada saat itulah ia minta dibaptis oleh Paus Liberius [masa pontifikat 352-366] ketika berusia sekitar 18 tahun. Rahmat baptisan yang diterimanya terus dihayatinya dengan banyak berdoa dan berziarah ke makam para martir dan para Rasul bersama sejumlah kawannya. Kehidupan rohaninya terus meningkat, demikian pula cintakasihnya kepada Allah dan sesama.




Pada tahun 370 Hieronimus melakukan perjalanan ke Gaul dan kemudian kembali ke Aquileia di mana dia mengabdikan dirinya dalam suatu kehidupan asketis. Di Aquileia untuk beberapa tahun lamanya Hieronimus memperoleh bimbingan rohani dari Valerianus, seorang uskup yang saleh. Sekitar tahun 374, Hieronimus melakukan perjalanan ke Timur.  Di Antiokhia dia bermimpi bahwa Kristus berbicara kepadanya dan berkata: “Ciceronianus es, non Christianus” (“Engkau adalah seorang Ciceronian, bukan seorang Kristiani”), sungguh suatu tuduhan berat atas dirinya karena Hieronimus memang lebih menyukai literatur Romawi daripada literatur Kristiani. Setelah peristiwa mimpi itu (cerita yang agak lengkap akan diungkapkan pada kesempatan lain) Hieronimus memilih untuk hidup di padang gurun Chacis, di luar kota Antiokhia, Siria, guna melakukan pertobatan sebagai seorang pertapa (hermit) selama 4-5 tahun sambil menajamkan penguasaannya atas bahasa Ibrani dan Yunani, di bawah bimbingan seorang rabi.

Berkat kemajuan rohaninya yang pesat, pada tahun 379 di Antiokhia, Hieronimus ditahbiskan menjadi imam. Kemudian dari sana Hieronimus pergi ke Konstantinopel, karena tertarik pada penafsiran Kitab Suci dan cara hidup dari S. Gregorius dari Nazianz. Ia memperoleh banyak pengalaman dari orang kudus Gereja Timur dan Pujangga Gereja itu bagi peningkatan hidup rohaninya.

Pada tahun 382 Hieronimus kembali ke Roma, kemudian diangkat menjadi sekretaris Paus Damasus I [masa pontifikat 366-384]. Sebagai sekretaris Paus, Hieronimus merupakan tokoh populer di kalangan ningrat Roma; dia menjalin persahabatan dengan perempuan-perempuan ningrat seperti Marcella, Paula dan kedua puterinya, yaitu Eustochium dan Blaesilla yang kemudian dikanonisasikan menjadi orang-orang kudus. Pada waktu kematian Paus Damasus I pada tahun 384, Hieronimus “pulang” lagi ke Timur. Ia mengunjungi Antiokhia, Palestina dan Mesir bersama  Paula dan Eustochium, dan sejak tahun 386 menetap di Betlehem.

Di Betlehem ini Hieronimus mendirikan sebuah rumah penginapan bagi para peziarah dan sekolah bagi anak-anak lokal. Hieronimus sendiri mengajar bahasa Latin dan Yunani. Sejak di Roma, para perempuan ningrat tertarik untuk hidup bermatiraga karena menyaksikan sendiri perikehidupan Hieronimus. Hidup bertarak orang kudus ini memang luarbiasa: dia hidup hanya dari roti dan air dan  tempat tidurnya pun tanpa alas. Di Betlehem perempuan-perempuan asal Roma itu membangun beberapa biara, namun biara-biara itu kemudian dibakar oleh para penganut aliran bid’ah Pelagianisme.

Hieronimus dipandang sebagai salah seorang cendekiawan terbesar dalam Gereja awal. Karya utamanya adalah terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin dan revisi Perjanjian Baru berbahasa Latin. Pekerjaan ini memakan waktu sekitar 15 tahun (c.390-405), dan diakui oleh Gereja sebagai hakiki dalam menghasilkan Kitab Suci Vulgata (bahasa Latin) yang digunakan lebih dari seribu tahun lamanya di Gereja Barat (Latin). Hal ini berarti bahwa hampir seluruh Kitab Suci Vulgata adalah hasil karyanya.

Hieronimus juga menulis banyak tafsir Kitab Suci dan berbagai tulisan lainnya yang sungguh merupakan sumber inspirasi bagi generasi-generasi kemudian. Tafsir Kitab Suci tersebut menunjukkan penguasaannya atas bahasa Ibrani. Agar mampu melakukan tugas tulis-menulis ini, Hieronimus telah mempersiapkan diri dengan baik. Dia menguasai bahasa Latin, Yunani, Ibrani, Aram dan Khaldea. Patut dicatat bahwa kemahiran Hieronimus dalam bahasa Ibrani dan Aram dipelajarinya antara lain dari seorang pertapa Yahudi.

Tulisan-tulisan Hieronimus lainnya adalah sebuah kelanjutan dari Historia Ecclesiastica (Sejarah Gereja) tulisan Eusebius dari Kaisarea (sampai tahun 378). Dia menulis De viris illustribus (392) yang mengedepankan para penulis Gereja dari tahun-tahun sebelumnya. Dia juga menulis banyak sekali surat yang dikirimkannya kepada para pemimpin terkemuka pada zamannya. Hieronimus juga menerjemahkan tulisan-tulisan dari Origenes serta menulis berbagai risalat yang bersifat kontroversial.

Hieronimus adalah seorang pribadi yang penuh semangat walaupun terkadang pemarah juga. Ia melibatkan diri dalam kontroversi-kontroversi sekitar berbagai tantangan dan konflik yang pada masa itu dihadapi Gereja – misalnya yang datang dari mereka yang termasuk golongan Arianisme, Origenisme dan Pelagianisme  Tulisan-tulisannya yang dengan keras dan tanpa kompromi melawan pemikiran-pemikiran Origenes menyebabkan terjadinya “cekcok” antara Hieronimus dengan seorang sahabat lamanya, yaitu Rufinus dari Aquileia. Hieronimus merasa terpukul dengan diporak-porandakannya Roma pada tahun 410 oleh orang-orang Visigoth, dan memandang peristiwa itu sebagai kematian dunia Romawi.

Selain terkenal luas karena karyanya di bidang perkitabsucian, Hieronimus juga dikenal sebagai seorang pembela iman Kristiani yang Katolik dalam menghadapi kaum bid’ah seperti dijelaskan di atas. Ia juga seorang pembimbing rohani yang baik. Dari segala penjuru datanglah banyak orang untuk mendapatkan bimbingannya dalam berbagai masalah rohani dan Kitab Suci. Hieronimus terus menulis dan mengajar hingga wafatnya pada tahun 420. Orang kudus ini wafat di Betlehem dalam keadaan buta dan ditinggalkan.

Sejak abad ke-8 Hieronimus diakui sebagai seorang Pujangga Gereja dan juga Bapak Gereja Latin. Ia dinamakan Bapak dari Ilmu Alkitabiah. Lambangnya adalah topi merah, diambil dari tradisi bahwa Paus Damasus I mengangkatnya menjadi seorang kardinal. Sebuah lambang lain adalah seekor singa yang berbaring di kaki orang kudus ini.

‘Kantor resmi’ atau ‘posko’ Hieronimus yang terakhir adalah sebuah gua di Betlehem yang letaknya berdampingan dengan gua yang dipercayai orang sebagai gua tempat Yesus dilahirkan. Jalan Hieronimus menuju Betlehem yang mengikuti pola zigzag adalah bagus sebagai pelajaran bagi setiap orang Kristiani yang mau menemukan cara terbaik untuk menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Allah dalam dunia yang terus berubah. Teristimewa bagi kita kaum awam yang harus berjuang dengan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya kita menanggapi panggilan kepada kehidupan doa di tengah-tengah kesibukan berbagai urusan keluarga, pekerjaan sosial dan lain-lainnya.

Antara lain melalui upaya-upayanya dan kegagalan-kegagalannya, Allah terus-menerus membimbing Hieronimus selagi dia berjalan menuju suatu kehidupan yang dengan seimbang memasukkan ke dalamnya (1) panggilan untuk suatu hidup doa yang membutuhkan keheningan, maupun (2) panggilan untuk berinteraksi dengan dunia. Dengan demikian, kita juga dapat menaruh kepercayaan bahwa Roh Kudus akan membimbing kita melalui kompleksitas panggilan kita masing-masing.  

Akhirnya, baiklah kita senantiasa mengingat pesan Santo Hieronimus yang terkenal: “Sekarang kita harus menerjemahkan nas-nas Kitab Suci ke dalam perbuatan; daripada berbicara muluk-muluk tentang hal-hal yang kudus, lebih baik kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari!”

renungan harian katolik
Blogevan.com
Blogevan.com Support selalu Kami untuk menulis Renungan dan Doa Harian Katolik melalui Donasi atau Donasi Online dengan cara mengklik satu kali salah satu iklan yang muncul.