Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Santo Laurensius Giustiniani

Perayaan 8 Januari dan 5 September

Santo Laurensius Giustiniani

Kelahiran

Laurensius dilahirkan di Venice, Italia, pada tahun 1381 dalam sebuah keluarga bangsawan. Sejak kecil Laurensius selalu mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin menjadi seorang kudus seperti leluhurnya Nicolo Giustiniani.

Melayani Tuhan

Ketika berusia sembilan belas tahun, Laurensius merasa bahwa ia harus melayani Tuhan dengan suatu cara yang istimewa. Ia meminta nasehat pamannya, seorang imam yang kudus. “Apakah kamu memiliki keberanian untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan menghabiskan hidupmu dalam biara dengan melakukan silih?” tanya pamannya. Cukup lama Laurensius tidak menjawab. Kemudian ia menatap salib dan berkata, “Engkau, oh Tuhan, adalah harapanku. Dalam Salib ada ketenteraman serta kekuatan.”

Hidup Membiara

Keluarganya menginginkannya untuk menikah, tetapi Laurensius lebih memilih jalan hidup religius dan bergabung dalam Komunitas biarawan St.Agustinus. Tugas pertamanya sebagai seorang biarawan Agustinian sangat berat. Ia diminta untuk pergi ke kotanya dan meminta-minta sumbangan bagi biaranya. Ini mungkin juga sebuah ujian yang sengaja diberikan oleh para pemimpin biara bagi putra bangsawan ini. Laurensius tanpa ragu-ragu pergi ke kota untuk mengemis. Ia tahu bahwa derma uang ataupun barang akan berguna bagi karya mereka. Ia bahkan mengetuk pintu rumahnya sendiri dan meminta derma.

Baca Juga : Renungan

Laurensius dan Ibunya

Ibunya dengan berlinang airmata membujuknya untuk meninggalkan biara. Tapi karena Laurensius menolak, sang ibu berusaha mengisi kantongnya dengan banyak uang dan makanan agar anaknya tidak perlu mengemis lagi dan pulang ke biaranya. Laurensius hanya menerima dua potong roti dan uang secukupnya, lalu pergi ke rumah sebelah untuk meminta derma lagi. Secara perlahan Laurensius belajar mengikis ego-nya dan mempraktekkan penyangkalan diri. Imannya semakin tumbuh dalam kasihnya kepada Tuhan.

Suatu hari seorang sahabat datang membujuk Lorenzo untuk meninggalkan kehidupan di biara. Laurensius dengan indahnya menjelaskan kepada temannya itu tentang betapa singkatnya hidup ini dan betapa bijaksananya untuk melewatkan hidup demi kerajaan surga. Temannya amat terkesan dan malah terdorong untuk menjadi seorang biarawan juga.

Menjadi Uskup

Di kemudian hari Laurensius diangkat menjadi Uskup, meskipun ia sendiri kurang senang akan hal itu. Umatnya menyambut dengan gembira karena mengetahui bahwa uskup baru mereka adalah biarawan pengemis yang sehari - hari meminta derma pada mereka. Hati uskup Laurensius yang lembut dan kudus membuat Orang berbondong-bondong datang kepadanya setiap hari untuk memohon pertolongannya.

Kematian

Menjelang ajalnya, St. Laurensius menolak berbaring di tempat tidur yang nyaman. “Tidak boleh demikian!” serunya dengan rendah hati. “Tuhanku terentang di kayu yang keras serta menyakitkan.” San Lorenzo Giustiniani wafat pada tahun 1455.

© Renungan Katolik Hari ini

Admin
Admin Download Aplikasi di Play Store Klik Disini