Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Santo Ireneus dari Lyons

Perayaan : 28 Juni

Ireneus adalah seorang Yunani yang dilahirkan antara tahun 120-140. Ia beroleh kesempatan istimewa menjadi murid St.Polikarpus. Polikarpus sendiri adalah murid dari Rasul Yohanes. Suatu ketika Ireneus mengatakan kepada seorang teman, “Aku mendengarkan pengajaran St.Polikarpus dengan amat seksama. Aku menuliskan setiap tindakan maupun perkataannya, bukan di atas kertas, melainkan dalam hatiku.”

Ireneus dari Lyons

Setelah ditahbiskan menjadi seorang imam, Ireneus diutus ke Lyons di Perancis. Di kota inilah Uskup St.Pothinius wafat sebagai martir bersama banyak orang kristen yang namanya tidak tercatat. Ireneus selamat dari pembantaian ini karena saat itu ia diminta rekan-rekan imam untuk pergi ke Roma untuk menyampaikan pesan mereka kepada paus. Dalam surat itu, mereka menyebut Ireneus sebagai seorang yang penuh semangat iman.

Ketika Ireneus kembali ke Perancis sebagai Uskup Lyons, masa penganiayaan telah berakhir. Namun demikian, muncul suatu bahaya lain, yaitu ajaran sesat yang disebut Gnostisisme. Bidaah ini memikat sebagian orang dengan iming-iming mendapatkan ajaran rahasia. Uskup Ireneus mempelajari ajaran sesat ini dan memahami bahwa meskipun sepintas terlihat sama, namun Gnostisisme sebenarnya sangat berbeda dengan ajaran iman Kristiani. Secara umum Gnostisisme mengajarkan bahwa dunia fana ini jahat; bahwa dunia ini diciptakan dan diperintah oleh kuasa malaikat, bukan Tuhan; dan bahwa Tuhan berada jauh dan tidak ada hubungannya dengan dunia ini. Keselamatan menurut para Gnostik dapat diraih dengan mempelajari ajaran-ajaran rahasia dan kaum Gnostik adalah orang-orang yang kehidupan rohaninya lebih unggul daripada orang-orang Kristen biasa. Para Gnostik mendukung pendapat ini dengan Injil-Injil Gnostik yang biasanya mencatut nama para rasul.

Demi melawan bidaah Gnostisisme, Ireneus menulis buku Melawan Ajaran Sesat yang isinya membeberkan kebodohan "ajaran yang secara keliru disebut Gnostik". Dengan menyitir gambaran dari Perjanjian Lama dan Baru, Uskup Ireneus membuktikan kesesatan aliran tersebut. Tentang para pengikut Gnostisisme ia menulis :

Segera setelah seseorang terpikat oleh Gnostik, orang tersebut akan menjadi sombong dan merasa dirinya begitu penting, ia akan berjalan mengangkat dada dengan gaya seekor ayam jantan. Tetapi orang-orang Kristen seharusnya menerima anugerah Allah dengan rendah hati, dan tidak mengandalkan kegiatan-kegiatan intelektualnya yang akan membuat ia sombong.

Dalam perjuangannya melawan Gnostisisme Uskup Ireneus berpegang teguh pada keabsahan pengajaran iman yang diturunkan dari para Rasul. Ia adalah murid Santo Polikarpus, yang adalah murid dari Rasul Yohanes, salah seorang dari 12 murid Yesus. Ireneus menegaskan bahwa para rasul mengajar di tempat-tempat umum dan tidak ada satu pun yang dirahasiakan. Di seluruh kekaisaran, gereja berpegang pada ajaran yang disampaikan para Rasul Kristus, dan hanya inilah satu-satunya dasar keyakinan. Ireneus menyatakan bahwa para uskup yang merupakan pelindung iman Kristen adalah penerus para rasul yang sah. Argumentasinya yang tersebar luas membuat ajaran Gnostis kehilangan pengaruhnya dimasa itu. Meski demikian ajaran ini tetap bertahan sampai abad pertengahan dan gagasan Gnostis kembali muncul seiring dengan bertumbuhnya gerakan mistis esoteris pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20 di Eropa dan Amerika Utara.

Santo Ireneus wafat sebagai martir sekitar tahun 202 M.

© Renungan Harian Katolik