Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bacaan Injil dan Renungan Harian Katolik Selasa 7 Desember 2021

Renungan Harian Katolik Selasa 7 Desember 2021, Hari Biasa Pekan II Adven, Peringatan Wajib St. Ambrosius (Uskup, Pujanggan Gereja), Warna Liturgi Putih.

Bacaan Pertama: Yesaya 40:1-11

Mazmur Tanggapan: Mazmur 96:1-2.3.10ac.11-12.13

Bait Pengantar Injil: Alleluya

Bacaan Injil: Matius 18:12-14

Renungan Harian Katolik Selasa 7 Desember 2021

Bacaan Pertama: Yesaya 40:1-11

Allah menghibur umat-Nya.

Beginilah firman Tuhan, “Hiburlah, hiburlah umat-Ku! Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan dua kali lipat karena segala dosanya.” Ada suara berseru, “Siapkanlah di padang gurun jalan bagi Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, setiap gunung dan bukit harus diratakan. Tanah yang berbukit-bukit harus menjadi rata, dan yang berlekak-lekuk menjadi datar. Maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama! Sungguh, Tuhan sendiri telah mengatakannya.” Terdengarlah suatu suara, “Berserulah!” Jawabku, “Apa yang harus kuserukan?” “Serukanlah: Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, apabila Tuhan menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda, “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu Tuhan Allah! Ia datang dengan kekuatan, dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan ternak-Nya dan menghimpunkan-Nya dengan tangan-Nya. Anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur: 96:1-2.3.10ac.11-12.13

Ref. Lihat, Tuhan datang dengan kekuatan!

  • Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan yang datang dari pada-Nya.
  • Sebab mahabesarlah Tuhan, dan sangat terpuji, Ia lebih dahsyat daripada segala dewata. Katakanlah di antara bangsa-bangsa: Tuhan itu Raja! Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.
  • Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai, biar gemuruhlah laut serta segala isinya!
  • Biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya, dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.
  • Bersukacitalah di hadapan Tuhan, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.

Bait Pengantar Injil: Alleluya

Ref. Alleluya, alleluya

Ayat. Hari Tuhan sudah dekat, Ia datang sebagai penyelamat.

Bacaan Injil Selasa 7 Desember 2021: Matius 18:12-14

Bapamu tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang 99 ekor di pegunungan, lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besarlah kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang sembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian pula Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Selasa 7 Desember 2021

Kita merasa bertanggung jawab terhadap sesuatu yang hilang. Kita tergerak untuk segera mencari dan menemukannya. Ini merupakan gambaran umat Allah yang jatuh dalam dosa. Mereka menjauh dari rengkuhan kasih Tuhan dan sesama. Kita bersatu untuk mengajak mereka kembali kepada Tuhan. Mereka juga berhak menikmati keselamatan Allah. Mereka kita terima kembali dengan sukacita. Penerimaan kita menjadi berkat khusus yang akan membarui hidup mereka.

Yesaya mewartakan kabar sukacita bahwa Allah selalu menyayangi umat-Nya. Meskipun bangsa Israel berkali-kali jatuh ke dalam dosa. Allah tetap setia pada janji-Nya asal Israel mau bertobat. Pertobatan inilah yang memulihkan kembali ikatan perjanjian dan membawa kebebasan.

Injil Matius juga menampilkan Yesus sebagai gembala yang baik. Ia memprioritaskan perhatian dan cinta-Nya bagi domba yang tersesat atau hilang. Ia akan mencarinya hingga ditemukan kembali. Dan jika ditemukan, sukacita akan menjadi milik semua orang.

Apakah kita sudah menjadi domba-domba yang baik? Barangkali malah sebaliknya, kita adalah domba-domba yang sedang tersesat atau mulai menghilang. Kita mulai menjauh dan melupakan Tuhan karena aneka tantangan hidup dan godaan-godaan dunia. Kita sedang menyandarkan diri pada pekerjaan, kekayaan, dan jabatan daripada berserah pada kekuasaan Tuhan.

Namun, percaya pada Tuhan itu mahasetia dan maharahim, marilah kita menyadari segala dosa dan kesalahan. Kita diperbarui perjanjian kita dengan Allah lewat Sakramen Tobat dan amal kasih. Kita jaga kesucian diri kita dengan rutin berdoa, dan merenungkan firman Tuhan, dan setia merayakan Ekaristi.

Riwayat Singkat Santo Ambrosius

Ambrosius adalah uskup kota Milan, salah satu keuskupan terpenting pada abad ke-4. Santo Ambrosius bersama-sama dengan Santo Augustinus Hippo, Santo Hieronimus, dan Santo Gregorius Agung, dianggap sebagai empat doktor Gereja Barat dalam Sejarah Gereja kuno.

Santo Ambrosius lahir di wilayah Galia (Perancis aktual) tahun 340, di kota Trier, Arles atau Lion. Ayahnya yang bernama Ambrosius juga adalah Wakil Kaisar Roma untuk wilayah Galia yang meliputi Perancis, Inggris, Spanyol dan sebagian Afrika Utara. Ambrosius adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ibunya seorang perempuan yang taat beribadah dan mengajarkan hidup rohani yang kuat kepada ketiga anaknya.

Pendidikan iman dalam keluarga inilah yang menyumbangkan intuisi iman dalam diri Ambrosius. Dari orang tuanya, Ambrosius belajar berdisiplin untuk menghidupi iman Kristen. Dari kakak tertuanya, Marcellina, Ambrosius belajar mencintai kemurnian dan dari Satyrus, Ambrosius belajar tentang kerendahan hati dan pelayanan. Setelah ayahnya meninggal, Ambrosius kembali ke Roma bersama Ibu dan kedua kakaknya. Di Roma, Ambrosius belajar ilmu hukum yang kemudian membuka praktek sebagai pengacara bersama Satyrus di Sirmium.

Keberhasilannya di bidang hukum ditambah keterampilannya berbahasa Latin dan Yu- nani menarik perhatian Kaisar Valentinianus, sehingga pada tahun 370 menobatkannya menjadi Gubernur Milano. Ketika Uskup Dionisius dari golongan Arianisme wafat, Ambrosius, sebagai pejabat publik kota Milan diutus oleh Kaisar Valentinianus untuk menyelesaikan perkara pergantian pimpinan di sana.

Yang ditakutkan oleh para Uskup adalah perpecahan antara penganut Kristen Ortodox dan penganut Arianisme. Karena rasa takut inilah, para Uskup meminta Kaisar untuk menunjuk langsung Uskup Agung Milan, melawan kebiasaan yang berlaku saat itu yaitu jemaat dan warga kota sendiri yang memilih Uskup mereka.

Ketika Ambrosius datang untuk menengahi kedua kelompok yang berbeda, menurut legenda, terdengarlah suara anak kecil yang berseru: Ambrosius Uskup! Dari sana, seluruh hadirin yang hadir menyerukan hal yang sama. Semula sang Santo menolak, tetapi karena intuisi iman dan semangat pengabdiannya, ia pun menerima tugas pelayanan itu. Ada dua hal yang sebenarnya menghambat pemilihannya sebagai Uskup: pertama, dia belum dibaptis dan kedua, dia belum belajar tentang tata pemerintahan Gerejawi. Namun demikian ia tetap bersiap sedia juga menerimanya.

Dalam bukunya, De Oficiis, tentang para klerus, ia mengakui bahwa biasanya orang belajar untuk persiapan mengajar. Tetapi dirinya, karena penunjukan yang mendadak, terpaksa mengajar sambil belajar: tidak ada manusia yang mengajar tanpa belajar. Hanya Tuhan yang mengajar tanpa terlebih dahulu belajar. Oleh sebab itu, Dialah Sang Guru Sejati. Tetapi aku, karena tugas perutusanku, terpaksa melakukan keduanya, aku mengajar sekaligus belajar sakramen.

Ketika menjadi Uskup Milan, intuisi iman inilah yang membantu Ambrosius untuk berani mengambil keputusan sulit, seperti berani berseberangan dengan Ratu Yustina, isteri kedua Kaisar Valentinianus yang mencoba menyebarkan ajaran Arianisme ke wilayah Barat kekaisaran Roma. Intuisi iman yang sama yang membuat Ambrosius tidak ragu menuntut kaisar Theodosius untuk melakukan laku tobat setelah membantai seluruh penduduk Tesalonika yang telah membunuh seorang pejabat tinggi Kekaisaran. Kaisar tidak segan segan dikucilkan dan tidak diperkenankan masuk gereja.

Ambrosius menegaskan bahwa pertobatan diseluruh umat merupakan syarat mutlak. “Kalau yang mulia mau meneladan perbuatan buruk Raja Daud dalam berdosa, yang mulia juga harus mencontoh dia dengan bertobat”, katanya. Kaisar Theodosius tidak berdaya dengan kewibawaan Uskup Ambrosius, katanya, “Ambrosius adalah satu-satunya Uskup yang menurut pendapatku layak memangku jabatan yang mulia ini”. Uskup Ambrosius telah menunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada seorang pun, meskipun ia seorang penguasa, yang lebih tinggi kedudukannya daripada Gereja.

Disamping mengajarkan nilai hidup kristianinya yang saleh, Santo Ambrosius juga memiliki peranan dalam pertobatan St. Agustinus, putra St. Monika. Dalam pengakuan St. Agustinus, penerimaan penuh kehangatan dari St. Ambrosius dan cara hidupnya telah membuat St. Agustinus meninggalkan cara hidup yang lama, memberi diri dibaptis dan akhirnya menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Inilah teladan St. Ambrosius yang selain memiliki kecakapan dalam gubernatio juga peduli pada kaderisasi. Dan hal terakhir yang bisa kita timba dari kehidupan sang Santo adalah cintanya akan keheningan.

Inilah hal pertama yang ia tulis kepada para imam di Keuskupannya. “Cintailah keheningan” tulisannya, “Keheningan adalah awal dari iman sebab dalam keheningan kita belajar mendengar sabda Allah. Lebih dari itu, hening berarti berjaga-jaga: menjaga hati dan budi dari jebakan musuh. Hening berarti menjaga lidah dan kata agar tidak keluar segala hal yang membuat diri sendiri dan orang lain jatuh dalam dosa”.

Uskup Ambrosius menghembuskan nafasnya yang terakhir pada saat Jumat Agung, 4 April 397. Jenasahnya dimakamkan dalam gereja yang kini dikenal dengan nama Gereja Santo Ambrogio di Milan.

Doa Renungan Harian Katolik

Ya Bapa yang mahasetia, aku kerap kali menjauh dari-Mu karena berbuat dosa. Beranikanlah aku untuk bangkit berdiri dan datang kembali ke hadirat-Mu. Amin.

Bacaan Selanjutnya: Renungan Harian Katolik Rabu 8 Desember 2021

Renungan Harian Katolik Selasa 7 Desember 2021

Daftar Bacaan Liturgi dan Renungan Harian Katolik Bulan September 2021 ->> Klik Disini




Download di Play Store ->> KLIK DISINI