Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pemahaman dan penghayatan Spiritualitas St.Vinsensius de Paul Pada Para Suster SCMM

Seperti banyak pendiri dari kongregasi yang baru pada abad ke-19. Mgr Zwijsen sebagai pendiri Kongregasi SCMM diilhami oleh St.Vinsensius de Paul sebagai rasul orang miskin. Pendiri juga mempelajari spiritualitas dari guru-guru spiritualitas yang termasyhur di Perancis, yang juga merupakan sumber inspirasi bagi Vinsensius.

Pemahaman dan penghayatan Spiritualitas St.Vinsensius de Paul pada  para suster SCMM

Pengaruh St.Vinsensius de Paul kepada pendiri SCMM adalah, ia merupakan model kehidupan religius yang cocok untuk situasi zamannya dan cocok dengan kehidupan spiritual pendiri. Pada masa hidupnya Mgr.Zwijsen sebagai pendiri SCMM banyak membaca buku kecil dengan amsal-amsal dari St.Vinsensius de Paul, sehingga beliau kadang-kadang disebut sebagai Vinsensius de Paul dari Tilburg oleh orang sezamannya (Blommestijn, Hein & Jos Huls, 1995:13-17). Sejalan dengan itu pendiri SCMM mengangkat St.Vinsensius de Paul sebagai pelindung kedua dari kongregasi SCMM. Hal ini dipaparkan secara jelas dalam Konstitusi Suster SCMM (1989: 14) sebagai berikut:

Ia melihat Maria Bunda yang berbelaskasih sebagai pelindung kongregasi. Pendiri kita juga mempunyai hormat yang besar kepada St.Vinsensius De Paul. Santo ini yang hidup di Perancis abad ketujuh belas, merupakan pembela dan pendukung kaum miskin. Ia mendirikan Kongregasi Puteri- puteri Kasih pertama di Paris. Dengan alasan ini pendiri kita menjadikan St.Vinsensius sebagai pelindung kedua kongregasi kita dan pelindung karya-karya kita.

Sebagaimana pendiri SCMM telah mengangkat St.Vinsensius de Paul sebagai pelindung kedua kongregasi sekaligus pelindung karya bagi kongregasi SCMM, diharapkan juga para suster SCMM dapat menjadikan Vinsensius de Paul sebagai inspirasi dan teladan mereka dalam hidup dan karya pelayanan, secara khusus dalam melayani kaum miskin.

Pemahaman para suster SCMM mengenai St.Vinsensius de Paul hanya sekedar sebagai pelindung karya amal bagi kongregasi, sebagaimana yang tertera dalam Konstitusi, sedangkan apa yang menjadi Spiritualitas dari St.Vinsensius de Paul tidak terlalu dipedulikan oleh kongregasi. Dalam perjalanan waktu, kongregasi merasa ada yang kurang dari karya pelayanan yang selama ini dilaksanakan, pada hal pendiri SCMM sangat terinspirasi oleh St.Vinsensius de Paul. Dewan Pimpinan Umum Kongregasi SCMM dan CMM sebagai salah satu kongregasi yang juga didirikan oleh Mgr.Zwijsen, membuat kegiatan ziarah bersama ke Belanda dan Perancis bagi calon pengkaul kekal. Kegiatan ini telah terlaksana sejak tahun 2007. Dari sharing para suster yang termuat dalam majalah ‘Compassion’ sebagai salah satu majalah Kongregasi edisi November/Desember 2007, terungkap kegembiraan mereka atas kegiatan ini, yang awalnya hanya mengetahui St.Vinsensius de Paul sebagai pelindung karya amal kongregasi, tetapi dengan kegiatan ini mereka semakin mengetahui apa yang menjadi Spiritualitas St.Vinsensius de Paul dan yang menggerakkan beliau dalam melayani dan mencintai orang miskin. Kegiatan ini memacu para suster dan para frater calon pengkaul kekal untuk kembali ke semangat asli pendiri dan mencintai pelayanan khusus mereka yang miskin, lemah dan tertindas, sehingga semakin banyak orang mengalami keselamatan.

Pemahaman dan penghayatan Spiritualitas St.Vinsensius de Paul pada  para suster SCMM

Takdapat dipungkiri bahwa pemahaman yang minim dari para suster SCMM tentang Spiritualitas St.Vinsensius de Paul membawa kesan kurang memadainya pelayanan para suster SCMM dalam melayani kaum miskin. Untuk memberi gambaran yang lebih jelas akan apa yang menjadi keprihatinan penulis, di sini penulis menjabarkan isi dari pertemuan propinsi 2009 dari pengalaman konkrit penulis waktu itu dan satu dokumen penting kongregasi yang memuat butir-butir penting hasil pertemuan propinsi Indonesia 2009 yang diikuti oleh seluruh suster SCMM.

Pertemuan Propinsi kongregasi SCMM 2009 dibagi dalam tiga gelombang sesuai dengan wilayah kerja masing-masing yakni: Sumatra, Nias dan NTT. Pertemuan hari Propinsi dan retret Vinsensian di wilayah NTT dilaksanakan pada tanggal 31 Juli sampai dengan 11 Agustus 2009 yang dihadiri oleh seluruh suster SCMM Indonesia termasuk penulis sendiri, yang pada saat itu bertugas sebagai notulis dan ketua kelompok. Selain para suster SCMM hadir juga Pastor Elias Sembiring, OFM Cap selaku moderator SCMM dan Pastor Wahyu, CM selaku anggota Vinsensian yang akan memberikan retret kepada para suster SCMM. Pertemuan ini diberi tema “Bersaudara dan berkarya sebagai SCMM yang Berbelaskasih”, yang dijabarkan dalam tiga sub tema: Bersaudara dan berkarya sebagai SCMM yang berbelaskasih dalam pelayanan hidup berkomunitas dan panti jompo. Bersaudara dan berkarya sebagai SCMM yang berbelaskasih dalam pelayanan di bidang Pendidikan; dan yang terakhir adalah Bersaudara dan Berkarya sebagai SCMM yang berbelaskasih dalam pelayanan di bidang Karya Sosial dan di Bidang Kesehatan (DPP SCMM, 2009:15-37).

Pertemuan ini dikemas dalam bentuk peragaan yang akan ditampilkan oleh kelompok-kelompok yang telah disusun oleh panitia. Setelah peragaan selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan pleno. Saat diskusi pleno, setiap suster diberi kesempatan untuk mengungkapkan apa yang menjadi keprihatinan dan harapan sebagai masukan yang berarti untuk kongregasi. Hasil keseluruhan pertemuan akhirnya menjadi evaluasi untuk hidup dan karya sekaligus harapan ke depan para suster SCMM yang tertuang dalam buku “Butir-butir penting hari propinsi SCMM tahun 2009 yang terdiri dari tiga bagian yakni: bidang pendidikan, kesehatan dan sosial.

Dalam karya pendidikan, ditemukan hal yang memprihatinkan yakni: ada penanggung jawab karya yang mengutamakan pelayanan kepada orang kaya dari pada kepada orang miskin; di mana sekolah-sekolah yang dikelola oleh kongregasi SCMM banyak menampung anak orang kaya dari pada anak orang miskin, karena jangkauan uang sekolah yang sangat tinggi yang tidak bisa dijangkau oleh orang kecil, sehingga terkesan sekolah hanya untuk orang kaya; selain itu nampak kurangnya perhatian dari para suster yang memegang karya terhadap kenaikan gaji para guru dan karyawan. Menanggapi situasi yang ada di bidang pendidikan, dipikirkanlah suatu terobosan, yaitu kembali ke semangat awal kongregasi, yaitu mengutamakan orang yang miskin, lemah dan tertindas, dan meningkatkan sikap kerendahan hati, kesederhanaan, kepekaan dan hati yang penuh belaskasih sebagai cerminan hidup para suster SCMM (DPP SCMM, 2009:147-167).

Sebagaimana dalam bidang pendidikan, di bidang kesehatan pun terdapat sejumlah hal yang memprihatinkan yakni: sikap dari suster perawat yang kurang ramah, jika ada pasien yang datang pada tengah malam, kadang para suster perawat menggerutu atau menyuruh pasien ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Adanya sikap mengeluh, kasar, kurang ramah terhadap pasien yang kurang mampu, dan belum adanya ketentuan sistem keuangan dalam hal tarif pembayaran bagi pasien tanpa harus disamakan antara pasien yang miskin dan yang kaya. Melihat kenyataan di lapangan maka usaha-usaha yang perlu dibuat agar pelayanan kesehatan semakin eksis di tengah masyarakat adalah: Para suster perawat harus memiliki hati yang penuh cinta dan penuh belaskasih dalam melayani pasien, memiliki sikap lemah lembut, ramah, sabar, dan dari pihak kongregasi mempersiapkan tenaga suster perawat yang professional sehingga mampu memberi pelayanan yang maksimal terhadap orang yang dilayani dan yang paling utama, dalam pelayanan mementingkan keselamatan pasien dari pada uang (DPP SCMM, 2009:225-287).

Karya pelayanan di bidang Sosial pun banyak mengalami pasang-surut. Beberapa keprihatinan dalam karya pelayanan sosial yang ditangani oleh para suster yakni: Adanya suster yang kasar, kurang ramah, kurang berhati ibu, banyak mengeluarkan kata-kata yang tak enak didengar, kurang tegas dalam menyelesaikan masalah, ada sikap pilih kasih atau perbedaan dalam memberikan kasih sayang dan perhatian. Setelah ditelusuri, salah satu penyebabnya adalah penempatan para suster yang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya dan juga dari pribadi para suster yang tidak mau belajar, sehingga para suster tersebut tidak melaksanakan karyanya secara maksimal dalam memancarkan belaskasih kepada orang yang dilayani (DPP SCMM, 2009:203-230).

Dari keprihatinan di atas muncul harapan dan keinginan menemukan terobosan baru sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Salah satu penyebab yang dapat ditemukan adalah kekurang pemahaman dan penghayatan para suster SCMM akan Spiritualitas St.Vinsensius de Paul, yang oleh pendiri telah diangkat menjadi pelindung kedua kongregasi sekaligus pelindung karya bagi kongregasi, sehingga pada karya secara khsusus berhadapan dengan kaum miskin, para suster kurang menampakkan apa yang menjadi harapan dari pendiri yakni mengutamakan yang miskin, lemah dan tertindas.