Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Homili Minggu 10 Oktober 2021: Pekan Biasa XXVIII

Bacaan Pertama: Kebijaksanaan 7:7-11

Mazmur Tanggapan: Mzm 90:12-13.14-15.16-17

Bacaan Kedua: Ibrani 4:12-13

Bacaan Injil: Markus 10:17-30

Homili Oleh: Pastor Robert Ambrosius Dhai Mosa

10 Oktober 2021, Minggu 10 Oktober 2021, Renungan 10 Oktober 2021, Bacaan Liturgi 10 Oktober 2021, Bacaan Injil 10 Oktober 2021, Kotbah 10 Oktober 2021, Homili 10 Oktober 2021
Menjadi Murid Yesus yang Cerdas

Bacaan Minggu ini mengundang kita untuk memperhatikan cara hidup kita di jalan Allah. Bacaan pertama menggambarkan pilihan penting Salomo sebagai Raja Israel. Dalam doanya, Salomo tidak meminta kekayaan, kesehatan dan kehormatan, tetapi malah meminta hati yang bijak dalam memimpin umat Allah. Ia lebih suka mahkota kebijaksanaan daripada taktah kekuasaan; ia lebih memilih hati yang penuh pertimbangan dari pada emas dan perak.

Di tengah kepungan hal duniawi yang menarik, penting membuat pilihan bijak. Hal yang sama terjadi dalam drama hidup pemuda yang bertanya kepada Yesus, “Apa yang harus ia lakukan untuk memiliki hidup yang kekal?” Yesus memerintahkannya untuk menaati perintah Allah dan menganjurkan dia untuk menjual segala miliknya dan memberikannya kepada orang miskin dan mengikutiNya. Apa yang terjadi? Pemuda itu menjadi sedih dan meninggalkan Yesus karena dia seorang yang banyak harta.

Apa yang kita pelajari dari Injil ini?

Pertama, tentang drama hidup tanpa sentuhan rohani. Inti perintah Allah adalah kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Keselamatan kekal tidak terjadi hanya dengan menghormati dan mematuhi hukum Allah, tetapi juga menerapkannya dalam situasi konkret di mana kita hidup.

Ketika Yesus meminta si pemuda untuk berbagi dengan orang lain, dia menjadi sedih, lalu pergi. Dia lebih memilih harta untuk dirinya sendiri daripada untuk berbagi dengan orang lain. Dia lupa bahwa konsep sesama dalam kekristenan bukan hanya tentang saya atau kita; tetapi juga tentang orang lain. Kita hendaknya membuka mata, melihat situasi sekitar kita dan mengambil tindakan nyata demi perbaikan hidup bersama.

Baca Juga: Bacaan dan Renungan Harian Katolik Minggu 10 Oktober 2021

Itulah sebabnya tidak membunuh itu baik; tidak berzinah sama baik; tidak mencuri atau bersaksi palsu atau menghormati orang tua juga baik. Hidup dengan cara ini, hanyalah sebuah tindakan egois yang tak berbuah jika orang hidup untuk dirinya sendiri dan melupakan orang lain yang sedang menderita.

Kedua, tantangan mengikuti Yesus. Dia memanggil kita bukan supaya kita tetap seperti kita saat ini, melainkan supaya kita mengubah cara hidup kita. Itulah hal yang tidak dimengerti oleh si pemuda dalam Injil. Ia pergi dengan sedih karena Yesus mengusulkan cara hidup baru. Bila kita datang kepada Yesus dengan tanpa mau diubah olehNya, maka hidup kita ya begitu-begitu saja-tak berdampak.

Hal yang sama berlaku dengan kekayaan. Harta benda itu sifatnya netral dan berdimensi sosial, tetapi banyak orang yang melekatkan diri pada harta, tanpa melakukan sesuatu untuk kebaikan orang lain. Yesus mengatakan, “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada orang yang kaya masuk ke dalam Kerajaan surga.” Harta benda dapat mengubah hati kita seolah-olah itulah satu-satunya tujuan hidup kita. Kita lalu melupakan Tuhan.

Kita lupa bahwa ada nilai-nilai lain yang lebih penting dan utama daripada sekadar uang dan harta. Nilai-nilai itu bahkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, seperti kesetiaan dalam pernikahan, relasi yang berlangsung hingga kekal, persahabatan indah dan saling meneguhkan, keadilan dll. Nilai-nilai itu kita tumbuhkembangkan hanya dalam kedekatan kita dengan Allah. Artinya, semakin dekat dengan Tuhan, semakin teguh kita mengamalkan nilai-nilai kebaikan dan tentu semakin bijaksanalah kita.

Mari kita mohon dari Allah supaya kita selalu bijak dalam merencanakan dan mengarahkan hidup kita. Kita berdoa juga agar Roh Kudus membebaskan kita sehingga kita tidak menjadi tawanan harta benda, tetapi menjadi manusia bebas sesuai dengan kehendak Allah. Amin.