Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Homili Minggu 17 Oktober 2021: Pekan Biasa XXVIX

Bacaan Pertama Yesaya 53:10-11
Mazmur Tanggapan Mzm. 33:4-5.18-19.20.22
Bacaan Kedua Ibrani 4:14-16
Bait Pengantar Injil Markus 10:45
Bacaan Injil Markus 10:35-45

Homili Oleh: RD Ambrosius

renungan harian katolik Minggu 17 Oktober 2021

Bacaan Minggu ini mengundang kita untuk memahami dan menjalankan kuasa-jabatan atau wibawa sebagai pelayan. Nabi Yesaya menggambarkan penderitaan hamba Allah untuk membenarkan banyak orang. Ia membiarkan diri “seolah” bersalah dan karena pengorbanan dan deritaNya, kehendak Tuhan untuk menyelamatkan kita tercapai.

Teks ini juga membantu kita untuk memahami Injil hari ini ketika Yesus menegaskan bahwa Ia datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang. Cara yang demikian jelas berbeda dengan cara kita-cara dunia.

Apa yang kita pelajari dari Injil hari ini?

Hari ini, kita merenungkan hal penting, yaitu kuasa-otoritas sebagai pelayan. Dalam diri setiap kita, pasti ada keinginan untuk diakui, dihargai dan dihormati, terutama ketika kita telah melakukan karya berharga dan sukses. Semua ini normal dan sah-sah saja.

Bahkan semua itu bisa meningkatkan harga diri dan mendorong kita terus melakukan yang terbaik dalam dalam hidup selanjutnya. Demikian juga, setiap kita ada keinginan untuk menggenggam kuasa. Sadar atau tidak, kita sedang menjalankan kuasa sebagai orang tua, dosen, guru, katekis, imam, seksi ini-itu, dll. Saya juga mengatakan, “tidak ada yang salah dengan semua ini.”

Namun, mari kita lihat! Ternyata alasan berkuasa dan menjalankannya berbeda seorang dari yang lain. Pertama, beberapa orang ingin punya jabatan/kuasa/otoritas, karena itu semua membuat dirinya diakui sebagai orang penting di mata orang lain. Maka ada sebutan BOS dan yang lain adalah anak buah/asisten /bawahan bahkan pesuruh...kasihan!

Kedua, ada juga orang yang ingin menjadi besar/kuasa karena gengsi. Seolah jabatan membuat mereka lebih mulia dan bermartabat. Orang yag demikian menjadi ambisius, tak pernah puas dan orang lain diperalat karena yang penting adalah posisi saya on the TOP.

Ketiga, ada juga yang mencari otoritas- pekerjaan yang diharapkan demi keuntungan material (uang). Kuasa/jabatan dilihat secara ekonomis. Dalam cara-cara ini, kuasa/otoritas dipandang terutama sebagai kesempatan untuk mempromosikan kehormatan dan kemuliaan seseorang. Konsep otoritas yang berciri egois, seperti inilah yang terjadi dengan dua bersaudara dalam Injil.

Bagi Yesus, otoritas-kuasa pertama-tama adalah kesempatan untuk melayani dan mempromosikan kebaikan Tuhan kepada orang lain. Di dalamnya, tidak ada kepentingan dan pemuliaan diri. Yesus meminta kita, para muridNya tidak berperilaku seperti perilaku para penguasa dunia.

Yesus sama sekali tidak mengutuk otoritas atau keinginan untuk kuasa, namun Ia mengoreksi cara kita menjadi pemimpin. Pemimpin sejati adalah orang yang mau mengorbankan (tenaga, waktu, pikiran dll) demi kebahagiaan orang lain, bukan supaya orang orang lain merasakan “efek” dari kekuasaannya. Jangan sampai kita berpikir seolah kita memiliki hak untuk memerintah orang lain. Ingat…jika orang mematuhi kita secara lahiriah, itu tidak berarti bahwa mereka senang dengan kita, bisa saja, dalam hati, ia tidak suka dengan kita.

Dengan mengatakan ini, tidak berarti bahwa menjadi pemimpin yang baik, kita harus selalu lembut dengan mereka di bawah kewenangan kita. Masalahnya adalah soal cara kita menjalankan kuasa/otoritas; apakah itu menjadi beban bagi orang lain atau membantu mereka sehingga aspirasi mereka terpenuhi.

Tentu inspirasi kita adalah Tuhan sendiri, ketika Tuhan berkuasa, segala sesuatu menjadi hidup dan hidup dalam kelimpahan. Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati. Amin.

Lihat juga di Youtube Channel :


Renungan Harian Katolik